<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871</id><updated>2011-07-08T13:40:50.478+07:00</updated><category term='sejarah'/><category term='arkeologi bawah air'/><category term='islam'/><category term='maritim'/><category term='keramik'/><category term='kelautan'/><category term='arkeoogi'/><category term='kliping'/><category term='kota'/><category term='benteng'/><category term='kolonial'/><category term='gua'/><category term='konservasi'/><category term='hiburan'/><category term='pariwisata'/><category term='prasejarah'/><category term='arkeologi'/><category term='budaya'/><category term='benda cagar budaya'/><category term='ekspedisi'/><title type='text'>Arkeologi Untuk Masa Depan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-5547044427956821330</id><published>2009-11-13T08:30:00.002+07:00</published><updated>2009-11-13T08:32:56.569+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kliping'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kelautan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='benda cagar budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='maritim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekspedisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keramik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arkeologi bawah air'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Berburu Bangkai Kapal di Selat Bangka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/Svy3P8fY_II/AAAAAAAAADs/SsEvqjQ2ATg/s1600-h/3571050p.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 224px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/Svy3P8fY_II/AAAAAAAAADs/SsEvqjQ2ATg/s320/3571050p.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403395137501461634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Budi Wiyana terlihat sedikit kesal. Perahu kayu yang ia tumpangi bersama anggota tim survei dari Direktorat Peninggalan Bawah Air, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, hanya berputar-putar di perairan sekitar Pulau Pelepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih dari dua jam sejak rombongan bertolak dari dermaga Kota Kapur, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung, titik tempat bangkai kapal Belanda yang terkubur di perairan ini belum juga bisa dipastikan. Seorang nelayan yang bertindak sebagai pemandu, kendati sudah pernah melakukan penyelaman di lokasi ini, masih ragu menunjuk lokasi persisnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Matahari sudah berada lurus ”di atas” kepala. Laut yang semula relatif tenang mulai berulah akibat angin kencang datang dari buritan. Perahu pun oleng diombang-ambingkan gelombang. Ketika rasa mual itu tak tertahankan, dari arah buritan terdengar suara beberapa orang muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mereka-reka dan melihat posisi Pulau Pelepas sebagai patokan, meski terlihat masih agak ragu, sang nelayan memberanikan diri menunjuk satu titik di tengah laut lepas. Kapal pun bergerak maju, lalu berputar, dan sauh pun diturunkan. Dua penyelam lokal yang bertindak sebagai tim pendahulu diminta terjun terlebih dahulu untuk mengecek keletakan bangkai kapal dimaksud, sekaligus memasang tali pengaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima arkeolog gabungan dari Balai Arkeologi Palembang, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi, dan Direktorat Peninggalan Bawah Air, Ditjen Sejarah dan Purbakala, yang sudah siap dengan peralatan selam hanya bisa menunggu. Kurang dari 3 menit, Bujang dan Sabar yang mendahului penyelaman muncul ke permukaan, tanpa hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Di lokasi ini tidak ada,” kata Bujang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah pada penyelaman berikutnya di lokasi berbeda, begitu muncul ke permukaan laut, senyum Bujang dan Sabar tampak mengembang. Perburuan terhadap sisa bangkai kapal Belanda yang kandas di perairan Selat Bangka—sekitar 2 mil laut (3,7 kilometer) lokasi dari mercusuar di Pulau Pelepas yang pernah dipugar atas perintah Ratu Wilhelmina pada tahun 1893—itu baru langkah awal untuk pendataan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kayaknya lumayan besar dan panjang, terbujur pada kedalaman sekitar 17 meter dari permukaan laut. Tetapi, arus di bawah sudah mulai kencang, Pak. Airnya pun mulai keruh,” ujar Sabar memberikan laporan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tim berembuk, mengingat semakin siang menjelang sore kondisi laut perairan Selat Bangka mulai tidak bersahabat, diputuskan hanya satu orang yang turun. Itu pun untuk membuat dokumentasi awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan jatuh pada Judi Wahjuddin. Dibekali kamera khusus, arkeolog dari Direktorat Peninggalan Bawah Air ini—ditemani Bujang—terjun ke dasar laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini penyelaman berlangsung lebih lama, sekitar 15 menit. Begitu muncul di permukaan, Judi melaporkan, arus di bawah bukan saja semakin deras, tingkat kekeruhan air pun kian pekat, dengan jarak pandang hanya 1-2 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judi dan Bujang sempat memutari bangkai kapal besi itu, sekaligus melakukan pengukuran. Diketahui, kapal sepanjang sekitar 70 meter tersebut kandas dalam kondisi terbelah dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosong dan karang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja laut di perairan Kepulauan Bangka Belitung bisa dikeringkan, niscaya serakan sisa-sisa bangkai kapal kuno dari berbagai masa akan menyembul ke permukaan. Jumlahnya pun dipastikan sangat fantastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berabad-abad, terutama sejak Sriwijaya menjadi penguasa laut di kawasan ini pada abad VII-XII, urat nadi pelayaran dan perdagangan yang melewati perairan Bangka Belitung tergolong padat. Sebagai penguasa kawasan ”muara” selat yang diapit daratan Tanah Semenanjung dan Pulau Sumatera, Sriwijaya berkepentingan untuk menjadikan wilayah perairan Bangka Belitung sebagai alur pelayaran utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal bermuatan barang-barang dagangan, termasuk benda-benda berharga, dari daratan Tiongkok menuju Asia Barat dan Persia dikondisikan harus melalui wilayah kekuasaan Sriwijaya. Sebagian dibelokkan memasuki alur pelayaran Sungai Musi menuju Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alur pelayaran melalui perairan Bangka Belitung sesungguhnya penuh risiko. Banyak gosong dan karang, yang menjadi ancaman kapal-kapal yang melintas. Tidak mengherankan bila selama berabad-abad banyak kapal kandas dan akhirnya tenggelam di kawasan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal Belanda yang terkubur di sebelah barat Pulau Pelepas baru satu contoh kecil. Pada masa yang jauh lebih ke belakang, kapal-kapal karam tentu lebih banyak lagi. Belum adanya peralatan navigasi yang mendukung aktivitas pelayaran, serta banyaknya gosong dan karang di kawasan ini diduga menjadi penyebab utama, selain aksi perompakan dan pembakaran kapal oleh lanun (istilah bajak laut di kawasan ini) yang banyak dicatat dalam kronik-kronik China serta Arab dan Persia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah catatan kuno mengenai pelayaran China menyebutkan lebih dari 30.000 kapal yang diberangkatkan dari pelabuhan-pelabuhan di daratan Tiongkok tidak kembali karena tenggelam di perjalanan. Sebagian besar dari kapal-kapal tersebut diperkirakan melalui perairan Bangka Belitung, yang memang sudah diketahui banyak terdapat gosong dan karang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak aneh bila pencarian titik-titik lokasi kapal karam yang dilakukan secara diam-diam di perairan ini terus berlangsung hingga kini. Nelayan pun banyak yang dilibatkan dalam kegiatan pengumpulan data dan informasi tentang keberadaan kapal karam di kawasan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak sedikit calon investor yang memburu informasi tentang titik lokasi yang diindikasikan tempat sisa bangkai kapal terkubur. Kabarnya, untuk informasi semacam itu, mereka berani membayar mahal, Rp 100 juta hingga Rp 150 juta,” kata Surya Helmi, Direktur Arkeologi Bawah Air. (WAD/KEN)&lt;br /&gt;Kompas.com - 13 November 2009&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-5547044427956821330?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/5547044427956821330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/11/berburu-bangkai-kapal-di-selat-bangka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/5547044427956821330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/5547044427956821330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/11/berburu-bangkai-kapal-di-selat-bangka.html' title='Berburu Bangkai Kapal di Selat Bangka'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/Svy3P8fY_II/AAAAAAAAADs/SsEvqjQ2ATg/s72-c/3571050p.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-6240115542546792804</id><published>2009-11-02T12:18:00.003+07:00</published><updated>2009-11-02T12:23:49.712+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arkeologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='prasejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kliping'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='benda cagar budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekspedisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pariwisata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Hewan Abadi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/Su5sezLJ7dI/AAAAAAAAADc/fwzpTRweh7c/s1600-h/114.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/Su5sezLJ7dI/AAAAAAAAADc/fwzpTRweh7c/s320/114.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399372279652675026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada 1888, seorang petani Mesir yang sedang menggali pasir tak jauh dari desa Istabl Antar menemukan kuburan massal. Jasad-jasad di dalamnya bukanlah jasad manusia. Mereka adalah Jasad kucing purba yang dimumikan dan dikubur di dalam lubang yang jumlahnya mencengangkan. “Bukan hanya satu-dua ekor di sana-sini,” tulis majalah English Illustrated Magazine, “tetapi puluhan, ratusan, ratusan ribu, hingga membentuk lapisan yang melebihi tebal lapisan batubara, bertumpuk 10 hingga 20 ekor.” Sebagian kucing yang terbalut linen itu masih terlihat bagus, bahkan beberapa wajahnya bersepuh emas. Anak-anak desa pun menjual spesimen-spesimen terbaik kepada wisatawan dengan harga murah sementara sisanya dijual dalam partai besar sebagai pupuk. Sekitar 180.000 ekor mumi kucing, seberat kurang-lebih 17 ton, lalu diangkut dalam sebuah kapal ke Liverpool untuk ditebarkan di ladang-ladang di Inggris.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang terjadi dalam zaman ekspedisi yang digelontori dengan dana besar yang menggali berhektare-hektare padang pasir dalam rangka mencari makam kerajaan serta emas menakjubkan, topeng berlukis, dan peti mati untuk menghiasi rumah dan museum Eropa dan Amerika. Ribuan mumi binatang yang ditemukan di tempat suci di seantero Mesir itu hanya menjadi penghalang yang perlu disingkirkan untuk meraih artefak berharga. Tak banyak orang yang mempelajari mumi-mumi binatang itu, dan nilai pentingnya pun nyaris tak diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seabad kemudian, arkeologi tak lagi menjadi perburuan trofi dan semakin bersifat ilmiah. Para penggali kini menyadari bahwa sebagian besar kekayaan situsnya terletak pada berbagai perincian tentang orang biasa—perbuatan mereka, pemikiran mereka, dan cara mereka berdoa. Mumi binatang merupakan bagian penting dari penemuan berharga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mumi binatang merupakan perwujudan kehidupan sehari-hari,” ujar pakar tentang Mesir Salima Ikram. “Hewan peliharaan, makanan, kematian, agama. Hal-hal tersebut mencakup semua hal yang dianggap penting oleh orang Mesir.” Ikram yang mengkhususkan diri dalam zooarkeologi—ilmu yang mempelajari jasad binatang dari zaman kuno—ikut mengawali penelitian baru tentang kucing dan binatang lain yang diawetkan secara sangat terampil dan saksama. Sebagai profesor di American University di Cairo, Ikram memanfaatkan koleksi mumi binatang yang terbengkalai dalam Museum Mesir sebagai proyek penelitian. Setelah melakukan pengukuran yang presisi, mengintip ke balik bebat linen dengan sinar-x, dan menyusun daftar dari temuan-temuannya, dia membuat ruang pamer untuk koleksi tersebut—jembatan antara masyarakat masa kini dengan kaum di masa lampau. “Saat melihat hewan-hewan ini, kita bisa berkata, ‘Oh, Raja Anu punya peliharaan. Saya juga punya. Alih-alih terpisah jarak 5.000 tahun lebih, orang Mesir kuno ini pun dilihat sebagai sesama manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini mumi hewan menjadi salah satu objek pameran yang paling populer di museum yang penuh dengan artefak berharga itu. Pengunjung dari semua umur, orang Mesir maupun orang asing, berjejalan melihatnya. Di balik panel kaca terbaring sejumlah kucing yang terbalut kain linen, yang membentuk pola belah ketupat, garis-garis, bujur sangkar, dan bersilangan. beberapa celurut terbaring tenang dalam kotak batu gamping berukir, dan . kambing-kambing jantan di dalam kotak berhias sepuhan dan manik-manik. Seekor gazelle yang terbungkus tikar papirus rombeng tampak demikian gepeng akibat proses pemumian, sehingga Ikram menyebutnya Korban Tabrak Lari. Seekor buaya sepanjang lima meter dengan punggung penuh tonjolan kulit dikubur bersama sejumlah mumi anak buaya di mulutnya. Burung ibis terbungkus dengan hiasan rumit. Juga ada elang, ikan, bahkan kumbang pel yang kecil beserta bola tahi yang dimakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hewan diawetkan agar tuannya yang meninggal punya teman di alam kekal. Orang Mesir kuno yang mampu membiayainya menyiapkan kuburannya secara mewah, berharap barang pribadi yang dikumpulkan, serta semua karya seni yang dipesan khusus, akan tersedia bagi mereka setelah mati. Bermula pada sekitar 2950 SM, raja-raja dinasti pertama Mesir dikuburkan di Abydos bersama anjing, singa, dan keledai dalam kompleks pemakaman mereka. Lebih dari 2.500 tahun kemudian, pada masa dinasti ke-30, seorang rakyat jelata di Abydos bernama Hapi-men dimakamkan bersama anjing kecilnya yang meringkuk di kaki lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mumi-mumi hewan lainnya berperan sebagai bekal orang yang mati. Potongan daging sapi terbaik, bebek, angsa, dan burung dara yang lezat diasinkan, dikeringkan, lalu dibungkus dengan linen. “Mumi pangan” demikian sebutan Ikram bagi dendeng pilihan untuk alam baka ini. “Tak masalah apakah semasa hidup dia menikmati makanan ini secara teratur, yang penting bisa dinikmati di alam baka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, beberapa jenis hewan lainnya dimumikan karena merupakan representasi hidup dewa tertentu. Kota Memphis yang mulia, ibu kota Mesir pada hampir sepanjang sejarah kunonya meliputi wilayah seluas 50 kilometer persegi pada masa puncaknya sekitar 300 SM. Penduduk Memphis sekitar 250.000 jiwa. Saat ini sebagian besar sisa kejayaan Memphis terletak di bawah desa Mit Rahina dan ladang di sekitarnya. Namun di sepanjang jalan berdebu, puing-puing sebuah kuil berdiri setengah tersembunyi oleh belukar. Inilah rumah pembalsaman sapi jantan Apis, salah satu hewan yang paling dipuja di seluruh Mesir purba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apis yang merupakan lambang kekuatan dan kejantanan sangatlah erat kaitannya dengan raja yang adikuasa. Makhluk ini setengah hewan setengah dewa dan dipilih untuk dipuja karena tanda tak lazim yang dimilikinya: segitiga putih di keningnya, pola sayap putih di bahu dan bokongnya, siluet kumbang pel di lidahnya, dan ujung rambut ekornya yang bercabang. Pada masa hidupnya, Apis dipelihara dalam suaka khusus, dimanjakan pendeta, dihiasi emas dan permata, dan dipuja banyak orang. Setelah mati, ruhnya dipercaya pindah ke sapi jantan lain, maka dimulailah pencarian Apis yang baru. Sementara itu, jasad hewan yang mati dibawa ke kuil dan dibaringkan di atas batu travertin yang terukir indah. Proses pemumian memakan waktu sekurangnya 70 hari—40 hari untuk mengeringkan daging yang tabal itu dan 30 hari untuk membungkusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pemakaman sang sapi, penduduk kota berduyun-duyun ke jalan untuk menyaksikan acara berkabung nasional tersebut. Sambil meratap dan menjambak-jambak rambut, mereka menyesaki jalan ke katakomba (kuburan bawah tanah) yang kini dikenal sebagai Serapeum di nekropolis (area pemakaman) padang pasir Saqqara. Dalam prosesi pemakaman, pendeta, penyanyi kuil, dan pejabat tinggi mengantar mumi itu ke kawasan gua galeri berkubah yang dipahat dari lapisan-batu-dasar gamping. Di sana, di antara koridor panjang pemakaman sebelumnya, mereka memakamkan mumi itu ke dalam sarkofagus raksasa dari kayu atau granit. Namun, beberapa abad setelahnya, kesucian tempat ini dilanggar karena pencuri mendongkel tutup sarkofagus dan menjarah mumi tersebut untuk diambil ornamennya yang berharga. Sayang, tak ada pemakaman sapi Apis yang masih utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hewan suci lainnya dipuja di pusat kultusnya masing-masing—sapi jantan di Armant dan Heliopolis, ikan di Esna, kambing jantan di Pulau Elephantine, buaya di Kom Ombo. Ikram percaya, gagasan tentang makhluk suci seperti itu lahir pada awal peradaban Mesir ketika curah hujan yang lebih lebat dibanding zaman sekarang menjadikan tanah di Mesir hijau dan gemah ripah. Karena dikelilingi hewan, orang mulai mengaitkan berbagai satwa itu dengan dewa tertentu sesuai kebiasaannya. Buaya misalnya. Binatang ini secara naluriah bertelur di atas batas luapan air saat banjir tahunan Nil, peristiwa penting yang merendam dan menyuburkan ladang dan menyebabkan Mesir kembali bangkit tahun demi tahun. “Buaya dianggap ajaib,” ujar Ikram, “karena memiliki kemampuan meramal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar tentang banjir yang baik ataupun yang buruk penting bagi negeri petani. Demikianlah secara berangsur-angsur buaya menjadi lambang Sobek, dewa-air kesuburan, dan sebuah kuil dibangun di Kom Ombo, salah satu tempat di Mesir selatan yang jadi lokasi banjir pertama terlihat setiap tahunnya. Di tempat suci itu, tak jauh dari tepi sungai tempat buaya liar berjemur, buaya peliharaan menikmati hidup bermanja dan dikuburkan dengan upacara yang serupa setelah mati.&lt;br /&gt;MUMI HEWAN TERBANYAK, hingga jutaan di Istabl Antar, adalah hewan pembayar nazar yang dikorbankan selama perayaan tahunan pada kuil pemujaan hewan di Istabl Antar. Seperti pasar malam, pertemuan akbar ini menghidupkan pusat agama di hulu dan hilir Sungai Nil. Ratusan ribu peziarah tiba dan mendirikan kemah. Musik dan tarian memenuhi jalur arak-arakan. Pedagang menjual makanan, minuman, dan tanda mata. Pendeta menjadi penjaja, menawarkan mumi yang dibungkus sederhana di samping yang lebih mewah bagi orang yang mampu membayar lebih tinggi—atau setidaknya yang merasa demikian. Di tengah kepulan asap dupa, dan umat mengakhiri ziarah mereka dengan memberikan mumi pilihannya ke kuil dengan teriring doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tempat dikaitkan dengan hanya satu dewa dan hewan perlambangnya. Namun di tempat-tempat yang tua dan mulia seperti Abydos ditemukan semua jenis mumi persembahan, dimana setiap spesies merupakan penghubung dengan dewa tertentu. Di Abydos yang jadi tempat pemakaman para penguasa awal Mesir, penggalian mengungkap mumi ibis yang kemungkinan melambangkan Thoth, dewa kearifan dan tulisan. Elang mungkin melambangkan dewa-langit Horus, pelindung raja yang sedang berkuasa. Sementara anjing dihubungkan dengan Anubis yang berkepala jakal, sang penjaga orang mati. Dengan menyumbangkan salah satu mumi ini ke kuil, peziarah dapat memperoleh rahmat dewa. “Makhluk itu akan selalu berbisik kepada sang dewa, katanya, ‘Ini dia, ini dia pemujamu, berkatilah dia,'" jelas Ikram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dinasti ke-26 sekitar 664 SM, mumi persembahan menjadi sangat populer. Negeri itu baru saja mengusir penjajahnya, dan warga Mesir dengan lega kembali kepada budayanya sendiri. Bisnis mumi pun marak, mempekerjakan banyak tenaga khusus. Hewan harus dibiakkan, dipelihara, dibunuh, dan dimumikan. Mereka harus pula mengimpor damar, mempersiapkan bebat, dan menggali makam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun tujuan dari produk ini mulia, tetap terjadi kecurangan dalam pelaksanaannya dan terkadang peziarah mendapat barang yang tidak sesuai. “Pemalsuan, penipuan,” kata Ikram. Pemeriksaan sinar-x yang dilakukan Ikram memperlihatkan berbagai penipuan terhadap konsumen, yaitu hewan yang murah menggantikan hewan langka yang lebih mahal; mumi diisi tulang atau bulu, bukannya binatang utuh; pembalut indah yang hanya membungkus lumpur. Ikram menemukan bahwa semakin indah kemasan luar dari mumi, kemungkinan penipuan makin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui cara kerja pembalsam zaman dahulu—topik yang tidak dibahas atau hanya diuraikan secara samar-samar dalam teks kuno—Ikram melakukan percobaan pembuatan mumi. Untuk mendapatkan bahan percobaan, dia mengunjungi labirin suq, pasar Khan el-Khalili yang sudah ada sejak abak ke-14 di Kairo. Di toko kecil yang hanya satu blok dari kios cendera mata, seorang klerek menggunakan neraca kuningan tua untuk menimbang gumpalan kristal abu-abu. Kristal itu adalah natron, garam yang menyerap kelembapan dan lemak, bahan pengering penting dalam pembuatan mumi. Bahan ini masih ditambang tak jauh di barat daya Delta Sungai Nil dan biasanya dijual sebagai soda pembersih. Di toko ramuan tak jauh dari situ, Ikram menemukan minyak yang dapat melenturkan kembali jasad yang kering dan kaku, serta keping damar yang ketika dicairkan akan menyegel bebat mumi. Sayangnya tak ada lagi yang menjual tuak nira yang digunakan pembalsam zaman dahulu sebagai pembasuh rongga tubuh setelah dikeluarkan isinya. Sebagai ganti, Ikram menggunakan gin buatan setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikram memulai pembuatan muminya dengan kelinci karena ukurannya mudah ditangani dan bisa dibeli di toko daging. “Alih-alih menjadikannya sup kelinci, kuberi mereka hidup abadi,” ujarnya. Flopsy—dalam upayanya ini, Ikram menamai semua muminya—dia pendam secara utuh di dalam natron. Jasadnya tak bertahan sampai dua hari. Lalu, terbentuklah gas yang makin lama makin banyak untuk kemudian meledak. Adapun muminya yang bernama Thumper (diambil dari nama kelinci dalam film Bambi lansiran Disney) bernasib lebih baik. Paru, hati, lambung, dan usus si Thumper dikeluarkan. Dia kemudian diisi dengan natron dan dipendam dalam natron yang lebih banyak. Thumper bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fluffy, mumi kelinci yang kandidat berikutnya, membantu memecahkan teka-teki arkeologi. Natron yang dimasukkan ke dalam tubuhnya menyerap cairan yang sangat banyak membuat natron menjadi lembek, bau, dan menjijikkan. Ikram mengeluarkan natron lembek itu dan lalu mengganti jeli natron tersebut dengan natron baru di dalam kantong linen. Kantong ini mudah diambil begitu mulai lembek, itulah sebabnya ditemukan buntalan seperti ini di banyak peti pembalsaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembalsaman Peter Cottontail sangat berbeda. Alih-alih mengeluarkan isi perut, Peter diberi terpentin dan minyak cedar lewat injeksi enema (melalui dubur) sebelum dimasukkan ke dalam natron. Herodotus, sejarawan Yunani ternama, menulis tentang prosedur ini pada abad kelima SM, tetapi para akademisi tidak sepakat tentang reliabilitasnya. Dalam hal ini, percobaan itu membuktikan bahwa Herodotus benar. Semua isi perut Peter larut kecuali jantungnya—satu-satunya organ yang selalu disisakan oleh orang Mesir purba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti hewan yang dimumikan lebih dari 3.000 tahun silam, mumi Ikram juga menuju ke alam baka yang bahagia. Begitu pekerjaan lab selesai, Ikram dan murid-muridnya mengikuti tata cara dan membungkus setiap jasad dengan bebat yang ditulisi mantra gaib. Sambil mengucapkan doa dan membakar dupa, mereka menguburkan mumi-mumi itu dalam lemari ruang kelas dan aktivitas mereka pun memikat pengunjung—termasuk saya. Sebagai persembahan, saya menggambar seikat wortel gemuk dan simbol untuk mengalikan ikatan wortel itu seribu kali. Ikram meyakinkan saya bahwa di alam baka, gambar itu langsung menjadi nyata dan membuat kelinci-kelincinya menggerak-gerakkan hidung kegirangan.&lt;br /&gt;   Oleh A. R. Williams, NGI&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-6240115542546792804?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/6240115542546792804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/11/hewan-abadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/6240115542546792804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/6240115542546792804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/11/hewan-abadi.html' title='Hewan Abadi'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/Su5sezLJ7dI/AAAAAAAAADc/fwzpTRweh7c/s72-c/114.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-3518445694833362149</id><published>2009-10-25T14:25:00.002+07:00</published><updated>2009-10-25T14:36:43.282+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hiburan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pariwisata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><title type='text'>SAIL BUNAKEN 12-20 AGUSTUS 2009 ; Revitalisasi Visi Negara Maritim</title><content type='html'>Kegiatan bahari kaliber internasional bertajuk ”Sail Bunaken 2009” di Manado, Sulawesi Utara (12-20 Agustus 2009) yang diadakan bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan ke-64 RI semoga menginspirasi. Selain parade kapal perang (fleet review), juga ada lintas layar (sail pass), yacht rally Darwin (Australia)-Manado, lintas terbang (flight pass), kirab kota, bakti sosial, dan pengibaran bendera Merah Putih di dalam laut. Semoga bukan hanya memutar roda ekonomi dan mempromosikan pariwisata bahari, namun juga merevitalisasi visi negara maritim Indonesia&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada ulang tahun kemerdekaan kali ini, Indonesia menarik perhatian dengan menggelar perhelatan bahari tingkat dunia. Rencananya diikuti ratusan kapal dan kapal perang dari berbagai negara. Diperkirakan 8.000 Anak Buah Kapal (ABK) asing akan hadir di Manado. Yang menarik, Kapal Induk USS George Washington milik Angkatan Laut AS juga datang untuk memeriahkan acara. Pada 17 Agustus 2009, sebanyak 1.500 penyelam akan menyelam dan mengadakan upacara pengibaran bendera Merah Putih di dalam laut untuk memecahkan rekor dunia (Guinness world record).&lt;br /&gt;Tentu saja ”Sail Bunaken 2009” menjadi ajang promosi wisata bahari yang sangat strategis. Gaungnya akan membahana sehingga para turis asing potensial akan tergerak untuk berkunjung ke tanah air. Acara itu sendiri diharapkan memberi dampak multiplayer effect bagi perekonomian di Sulawesi Utara. Bahkan diperkirakan akan ada Rp 25 miliar uang beredar selama penyelenggaraan event kelas dunia tersebut.&lt;br /&gt;Namun, tentu kita masih ingat tragedi bom JW Marriot yang baru lalu, yang telah menggagalkan event akbar sepakbola. Gara-gara kecolongan aksi teror itu, tim Manchester United yang telah lama ditunggu-tunggu batal main di Jakarta. Artinya, sukses ”Sail Bunaken 2009” ini tidak hanya ditentukan oleh kepiawaian para pebisnis pariwisata kita. Suksesnya ditentukan pula oleh kesigapan Indonesia untuk mengamankan perhelatan itu dari segala jenis gangguan keamanan. Kehebatan daya pikat pariwisata bahari tidak begitu dipertaruhkan dalam acara itu. Dunia sudah tahu kemolekan wisata laut kita. Yang justru menjadi pertaruhan adalah kemampuan Indonesia menjamin keamanan. Pariwisata tanpa didukung keamanan juga tidak akan berarti apa-apa seperti sudah terbukti dalam kasus terorisme di Bali.&lt;br /&gt;Dengan demikian, acara ini seharusnya menjadi ajang unjuk kemampuan Indonesia untuk mengamankan tanah airnya dan untuk menjaga tamu-tamunya. Apalagi dalam acara ini hadir banyak kapal perang asing yang tentu saja merepresentasikan kehebatan militer masing-masing negara. Sebagai tuan rumah, apalagi yang sedang berulang tahun, seharusnya kita mampu menjamu dan menjaga para tamu. Bukannya justru ditolong oleh para tamu gara-gara tak becus menangani masalah keamanan. Dalam hal inilah nama Indonesia dipertaruhkan di mata dunia. Supaya orang jangan menduga-duga kalau datangnya kapal induk Amerika Serikat, misalnya, menjadi pertanda seolah-olah Indonesia berlindung di bawah ketiak si Paman Sam itu.&lt;br /&gt;Hal di atas mengingatkan kita akan kejayaan Indonesia sebagai negara maritim di masa lalu. Masih satu pulau dengan Manado, Kerajaan Goa di Sulawesi Selatan pernah menjadi penguasa samudera pada abad ke-16. Waktu itu, para pedagang Makassar dan Bugis sudah berlayar menjelajahi kepulauan Indonesia, sampai ke Sumatera, Kalimantan, Malayu, Sri Lanka, Filipina, pantai barat Papua, dan pantai utara Australia. Kapal mereka yang terkenal, pinissi, menjadi teknologi maritim yang tangguh pada zamannya.&lt;br /&gt;Pada masa-masa awal kemerdekaan, semangat kemaritiman kita masih menggelora. Pada 13 Desember 1957 Pemerintah Indonesia memperjuangkan ”Deklarasi Djuanda”. Intinya adalah penekanan pada ”archipelago principle” dimana lautan bukan sebagai pemisah namun pemersatu antarpulau-pulau dalam sebuah negara kepulauan. Perjuangan itu pun berhasil setelah pada 1983, dalam Konferensi III tentang Hukum Laut Internasional, PBB mengakui Pokok-pokok Azas Negara Kepulauan dan kemudian mencantumkannya dalam UNCLOS 82.&lt;br /&gt;Sayangnya, di tengah kemenangan perjuangan itu, Indonesia sendiri seperti kurang peduli dengan dunia maritim. Buktinya, keamanannya tidak dijaga. Kapal asing sering masuk. Dan, yang kadang tidak disadari oleh masyarakat luas, harta karun di laut kita sudah banyak dicuri. Seandainya kekayaan itu digali dan dimanfaatkan dengan baik maka bangsa ini akan makmur. Menurut arkeolog Amerika Serikat, Tonny Wells, paling tidak terdapat 185 kapal kuna karam di perairan Indonesia. Jumlah itu adalah 41 persen dari total kapal kuna yang karam di kawasan Asia Tenggara. Nilainya sangat menggiurkan. Sebuah saja, misalnya kapal Portugis Flor de la Mar yang karam pada tahun 1511 ditaksir bernilai Rp 56 triliun! Pada 1999, seorang pemburu harta karun Michael Hatcher berhasil mengeruk harta karun kapal Tek Sing yang karam di perairan Riau pada tahun 1822. Hasil buruannya, 350 ribu porselin zaman Dinasti Qing bernilai Rp 132 miliar. Ia menyelundupkan harta karun itu ke Jerman melalui Australia. Menurut investigasi, banyak kasus pencurian harta karun laut di Indonesia terjadi karena tindak kolusi aparat-pejabat-pengusaha, mulai dari tahap perizinan sampai tahap pelelangan.&lt;br /&gt;Dalam hal perdagangan laut, kita juga masih jauh tertinggal. Pada tahun 1970 saja, pelabuhan Singapura sudah sangat ramai, dikunjungi sebanyak 38.066 kapal. Pada tahun 1982 terminal peti kemas di negeri itu telah menangani lebih dari 13 juta ton muatan untuk pengiriman via samudera. Pelabuhan di Singapura telah menjadi pelabuhan transito dan pengumpul komoditas terbesar di Asia Tenggara. Padahal, sejarahnya, pelabuhan Singapura itu dibangun oleh Raffles (1819-1824) untuk tujuan menyaingi Batavia (Jakarta) yang sudah lebih dulu berkembang.&lt;br /&gt;Semoga momen “Sail Bunaken 2009” membangkitkan kembali visi Indonesia sebagai negara maritim. Wilayah laut kita yang indah, kaya, mengandung harta karun, mengandung sumber daya alam dan sumber daya hayati – yang diincar banyak orang – harus kita jaga, kita kuasai, kita amankan, dan kita manfaatkan untuk kepentingan bangsa. Biarlah Merah Putih berjaya di laut kita.q-c (1432-2009)&lt;br /&gt;*) Haryadi Baskoro SSos MA MHum,&lt;br /&gt;Pengamat, Peneliti, Penulis bidang Kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-3518445694833362149?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/3518445694833362149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/sail-bunaken-12-20-agustus-2009.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/3518445694833362149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/3518445694833362149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/sail-bunaken-12-20-agustus-2009.html' title='SAIL BUNAKEN 12-20 AGUSTUS 2009 ; Revitalisasi Visi Negara Maritim'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-4725188310280744358</id><published>2009-10-25T14:20:00.000+07:00</published><updated>2009-10-25T14:25:07.103+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kelautan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='benda cagar budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='maritim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekspedisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arkeologi bawah air'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Sepenggal Pesan Harta Karun di Perairan Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SuP9SxAsDkI/AAAAAAAAADU/oUI0igeNrU0/s1600-h/610x.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 239px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SuP9SxAsDkI/AAAAAAAAADU/oUI0igeNrU0/s320/610x.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396435277355683394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1986, dunia digemparkan dengan peristiwa penemuan 100 batang emas dan 20.000 keramik Dinasti Ming dan Ching dari kapal VOC Geldennalsen yang karam di perairan Kepulauan Riau pada Januari 1751. Penemu harta karun itu adalah Michael Hatcher, warga Australia, yang menyebut dirinya sebagai arkeolog maritim yang doyan bisnis.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Percetakan Inggris, Hamish Hamilton Ltd, memublikasikan kisah petualangan dan temuan Hatcher itu dalam The Nanking Cargo (1987). Nanking Cargo merupakan sebutan kargo kapal VOC Geldennalsen yang berisi barang-barang berharga hasil transaksi perdagangan VOC di Nanking, China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling terkejut dengan temuan Hatcher itu adalah Pemerintah Indonesia. Bagaimana tidak, barang-barang yang dilelang Hatcher di balai lelang Belanda, Christie, senilai 15 juta dollar AS itu ditemukan di perairan Kepulauan Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Waktu itu, Pemerintah Indonesia merasa kecolongan lantaran Hatcher mengambil harta karun secara ilegal atau tidak seizin pemerintah,” kata Kepala Subpengendalian dan Pemanfaatan Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata R Widiati di Rembang, Jawa Tengah, Selasa (18/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu saja, pada 1999 di Batu Hitam, Bangka Belitung, sebuah perusahaan asing mengambil ratusan batangan emas dan 60.000 porselen China Dinasti Tang yang dilelang senilai 40 juta dollar AS. Setahun kemudian, perusahaan asing yang diduga di bawah kendali Hatcher mengangkut dan melelang 250.000 keramik China dari Selat Gelasa, Bangka Belitung, ke Nagel, balai lelang Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami tidak mengetahui nilai lelang itu, tetapi kami sempat meminta dan mendapatkan 1.500 keramik untuk disimpan di Indonesia sebagai salah satu bentuk pelestarian peninggalan bawah air,” kata Widiati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peninggalan bawah air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia merupakan negara maritim yang mempunyai kekayaan bawah air. Salah satunya adalah benda-benda berupa keramik, emas batangan, uang logam, guci, gerabah, piring, gelas, mangkuk, dan patung yang ditemukan dari sisa kapal karam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;National Geographic (2001) menyebutkan tentang 7 kapal kuno tenggelam di perairan Indonesia bagian barat, terutama Selat Malaka, pada abad XVII-XX. Kapal-kapal itu adalah Diana (Inggris), Tek Sing dan Turiang (China), Nassau dan Geldennalsen (Belanda), Don Duarte de Guerra (Portugis), serta Ashigara (Jepang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu belum termasuk kapal-kapal dagang abad III-XV yang didominasi saudagar China yang singgah atau berdagang di sejumlah pelabuhan pada zaman kerajaan di Nusantara. Misalnya, pendeta China, Yijing, mencatat kunjungannya ke Pelabuhan Sriwijaya pada abad VII untuk belajar bahasa Sanskerta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dalam perjalanan, kapal-kapal itu ada yang karam dan tenggelam. Penyebabnya adalah badai di laut, serangan bajak laut, tabrakan dengan kapal lain, dan perang,” kata Widiati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mencatat, di Indonesia ada enam daerah penemuan benda peninggalan bawah air, yaitu Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Bangka Belitung, Cirebon (pantai utara Jawa Barat), Kalimantan Barat, dan Rembang (pantai utara Jawa Tengah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, pada tahun 1989, di Pulau Buaya, Kepulauan Riau, PT Muara Wisesa Samudera atas izin Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (Panitia Nasional BMKT) mengangkat 30.000 keramik utuh dan barang-barang dari logam, kayu, dan kaca. Barang-barang yang berasal dari Dinasti Song (abad X-XIII) itu berbentuk mangkuk, piring, buli-buli, tempayan, cepuk, dadu botol, vas, dan kendi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2005, PT Adikencana Salvage atas seizin Panitia Nasional BMKT mengangkat 25.000 keramik China dan 15.000 porselen zaman Dinasti Ching di Karang Heluputan dan Teluk Sumpat, Kepulauan Riau. Perusahaan itu juga menemukan koin, peralatan timbang logam, dan tungku China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benda-benda serupa juga ditemukan di perairan Kepulauan Seribu, Bangka Belitung, Cirebon, dan Kalimantan Barat. Khusus di Kepulauan Seribu, PT Sulung Segarajaya dan Seabed Explorations, perusahaan Jerman, menemukan 11.000 benda yang terbuat dari aneka logam, seperti emas, perak, perunggu, dan timah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Widiati, temuan- temuan itu berasal dari abad X. Dari identifikasi sebagian badan kapal, kapal itu buatan Indonesia yang berlayar dari ibu kota Sriwijaya, Palembang, menuju Jawa Tengah atau Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Para pemburu harta karun itu dapat menemukan lokasi kapal karam berdasarkan catatan perjalanan kapal-kapal tersebut yang tersimpan di berbagai museum atau pembuktian atas laporan dan cerita dari mulut ke mulut warga pesisir di lokasi terdekat,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada medio 2008 di Rembang, tepatnya di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, sejumlah warga pesisir menemukan perahu kuno relatif utuh di tambak yang berjarak sekitar 1 kilometer dari pantai. Perahu itu berlebar 4 meter dan panjang 15,60 meter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor Pierre-Yves Manguin, arkeolog maritim asal Perancis, yang diundang Balai Arkeologi Yogyakarta untuk meneliti perahu, menyatakan, perahu itu berasal dari zaman peralihan Kerajaan Mataram Kuno ke Sriwijaya, 670-780 Masehi. Hal itu dapat diketahui dari teknologi pembuatan perahu, yaitu menggunakan tambuktu atau balok tempat pasak yang diperkuat dengan ikatan tali ijuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perahu itu ditemukan pula benda-benda lain, seperti tempurung kelapa, potongan tongkat, dan kepala arca perempuan China berdandan Jawa. Diduga perahu itu merupakan perahu dagang antarpulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, perahu itu dalam penanganan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Balai tersebut telah mengambil sejumlah contoh berupa kayu perahu, tanah, dan air di sekitar perahu untuk menentukan metode konservasi yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktorat Peninggalan Bawah Air dan Panitia Nasional BMKT tidak ingin lagi kehilangan harta karun bawah air. Untuk itu, mereka berupaya menyosialisasikan perlindungan temuan bawah air kepada pemerintah daerah dan masyarakat pesisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widiati mengatakan, benda-benda peninggalan bawah air tidak sekadar mempunyai nilai ekonomis, melainkan juga nilai edukatif dan pelestarian. Artinya, kalau benda-benda itu dilarikan ke negara-negara lain, Indonesia tidak lagi memiliki peninggalan bersejarah yang dapat dinikmati dan dipelajari generasi mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun benda itu diam, mereka dapat memberikan informasi tentang sejarah perdagangan antarnegara melalui laut, teknologi pembuatan benda, budaya, dan kemajuan suatu negara atau kerajaan. Benda-benda tersebut sekaligus menjadi bukti nyata pelayaran yang pernah dilakukan beberapa bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Benda-benda peninggalan bawah air itu termasuk benda cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya,” kata Widiati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bagi Manguin yang menekuni temuan perahu atau kapal, alat transportasi laut itu merupakan gambaran sebuah bangsa melepas belenggu isolasi samudra, membuka komunikasi, dan berinteraksi dengan bangsa lain. Mereka bertukar pengetahuan, barang, budaya, dan pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui perahu dan kapal, sebuah bangsa membangun politik dan ekonomi maritim. Mereka mengembangkan kekuasaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perdagangan dan aneka hasil laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dari temuan-temuan yang mengisahkan sejarah dan budaya bangsa-bangsa pelaut, Pemerintah Indonesia seharusnya belajar arti penting laut bagi perkembangan sebuah bangsa, bukan malah menganaktirikan laut,” kata Manguin. &lt;br /&gt;Sumber : Kompas Cetak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-4725188310280744358?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/4725188310280744358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/sepenggal-pesan-harta-karun-di-perairan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/4725188310280744358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/4725188310280744358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/sepenggal-pesan-harta-karun-di-perairan.html' title='Sepenggal Pesan Harta Karun di Perairan Indonesia'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SuP9SxAsDkI/AAAAAAAAADU/oUI0igeNrU0/s72-c/610x.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-4482207416820971793</id><published>2009-10-25T14:18:00.001+07:00</published><updated>2009-10-25T14:20:03.378+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kliping'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kelautan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='benda cagar budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='maritim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekspedisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keramik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arkeologi bawah air'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Harta Karun di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SuP7_BeNoFI/AAAAAAAAADM/o833h_A35Cs/s1600-h/jar_brglazed-spouted_32_400.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SuP7_BeNoFI/AAAAAAAAADM/o833h_A35Cs/s320/jar_brglazed-spouted_32_400.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396433838665474130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak dahulu kala Indonesia tersohor sebagai negeri maritim. Secara geografis pun letak Indonesia sangat strategis, yakni di jalur persimpangan perniagaan dunia. Tak mengherankan, jika lautan Nusantara banyak menyimpan harta karun dari kapal-kapal abad lampau yang karam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dus, pencurian harta karun kerap terjadi, terutama dalam satu dasawarsa terakhir. Perburuan harta karun pun tak kenal musim. Bayangkan, puluhan ribu harta peninggalan masa lampau dijarah dari dasar samudra. Pelakunya tak hanya dari dalam negeri, pihak asing pun turut bermain. Adapun nilai kerugian akibat pencurian itu sangatlah besar, paling tidak mencapai triliunan rupiah. Suatu jumlah yang besar mengingat saat ini Indonesia masih didera krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta karun. Mendengar sebutannya saja pasti terbayang seonggok emas, keramik kuno atau benda berharga lainnya. Tentu ini menggiurkan banyak pihak. Tengok saja Kota Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Perairan Bangka Belitungpun strategis karena bertetangga dengan Selat Malaka. Sejak beberapa abad silam, bahkan ribuan tahun lampau selat ini merupakan salah satu jalur laut tersibuk di dunia. Lantaran itulah, sekitar perairan tersebut, tepatnya di dasar laut diyakini menyimpan banyak harta karun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil perdagangan benda-benda yang diangkat dari kapal-kapal karam begitu marak di wilayah barat laut Indonesia ini. Sebut saja jual beli keramik-keramik bernilai historis tinggi. Kota Belitung pun kerap menjadi lokasi pertemuan antara penemu lokasi harta karun dan investor. Kedua pihak biasanya memakai jasa broker atau perantara. Salah satu broker adalah Ali. Ia kerap menjadi penghubung transaksi maupun rencana perburuan harta karun. Itu semua dilakukan di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kota Belitung, geliat perburuan harta karun mulai dari keramik, porselin, patung hingga perhiasan memang sangat mencolok. Di sana terdapat banyak toko tak resmi bebas memperdagangkan benda-benda tersebut. Tak hanya pemain lokalyang memburu harta karun di Belitung. Sejumlah investor besar, juga pernah dan terus memburunya sampai kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu diakui Adi Agung, salah satu pengusaha pemburu harta karun. Ia mengaku pernah bekerja sama dengan warga Belitung untuk kepentingan eksplorasi harta karun. Namun setelah bekerja selama setahun setengah, pihaknya tak berhasil menemukan banyak benda kuno. Ternyata memang banyak sekali diketemukan lokasi-lokasi [kapal karam]. Tapi isinya sudah tidak ada," papar Adi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perairan Belitung, terutama Selat Gelasa dan Selat Gaspar adalah dua tempat yang terkenal di mata pemburu harta karun atau benda muatan kapal tenggelam di dunia. Maklum di perairan ini diperkirakan ada puluhan kapal yang diduga tenggelam pada ratusan tahun silam. Nilainya paling sedikit dapat mencapai puluhan miliar rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya hampir semua perburuan harta karun menyisakan kisah kelam. Mulai dari saling sikut antarpengusaha, konflik kepentingan penguasa hingga hasil penjarahan harta karun yang dibawa ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perburuan harta karun di perairan Belitung, bahkan menyeret-nyeret nama-nama besar pemburu harta karun dunia, seperti Michael Hatcher dan Tilman Walterfang. Hatcher, seorang pemburu harta karun kelas kakap dari Autralia berhasil mengangkat lebih dari 400 ribu keramik dari Dinasti Ching (1644-1911) dan membawanya terbang ke balai lelang di Jerman. Dari proyek pengangkatan harta karun kapal Tek Sing ini, Hatcher menangguk untung sekitar 6,5 juta mark Jerman atau setara Rp 32 miliar. Sementara pemerintah Indonesia hanya kebagian 1.400 keping keramik dan Rp 4,2 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh berbeda dengan yang dilakukan Tilman Walterfang. Warga Jerman ini disebut-sebut mengeruk harta karun Kapal Tang Cargo hampir 50 ribu keping artefak. Umumnya berupa keramik asal abad IX Masehi. Nilainya ditaksir mencapai US$ 40 juta. Ironisnya, sebagai pemilik sah, Indonesia hanya kebagian lima persennya saja atau sekitar Rp 22 miliar. Itu pun setelah melalui negosiasi alot. Tilman sukses membawa kabur artefak kuno itu ke Selandia Baru dengan dalih desalinasi atau proses pencucian. Tapiharta karun itu tak pernah kembali ke Bumi Pertiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelusuran baru-baru ini, Tim Sigi SCTV menemukan dokumen izin pencucian ke Selandia Baru yang ditandatangani kepala Biro Umum Kantor Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan yang saat itu dijabat Handi Yohandi. Pemerintah Indonesia lagi-lagi kecolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya perhatian serius justru datang dari pihak asing, seperti Peter Schwarts, ahli keramik Cina. Menurut dia, pihaknya sudah berusaha memberitahukan pemerintah Indonesia tentang pencurian harta karun dari lautan di Indonesia. Sayangnya informasi itu tidak mendapat respons.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Belitung, Tim Sigi mencoba mengais cerita tentang jejak Tilman. Namun yang ditemukan hanya bungalow yang disebut-sebut bekas base camp Tilman. Penelusuran dilanjutkan ke Pulau Babi. Di pulau yang tak jauh dari Pulau Belitung itu, ditemukan banyak pecahan-pecahan keramik. Dari ciri-ciri pecahan keramik, diduga benda-benda kuno itu berasal dari Dinasti Ching, sekitar abad ke-16 Masehi. Keramik-keramik ini bagian dari muatan Kapal Tek Sing yang dieksplorasi Hatcher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksplorasi harta karun pun dilangsungkan di perairan Cirebon, Jawa Barat. Pengangkatan ini resmi diketahui pihak pemerintah. Kabarnya harta karun tersebut berasal dari muatan kapal kargo abad 10 Masehi. Kapal itu tenggelam dalam perjalanan dari Kerajaan Sriwijaya menuju Singosari. Menurut survei, kapal itu membawa puluhan ribukeramik kuno dan sejumlah lempeng emas. Nilainya ditaksir mencapai US$ 24 juta atau setara Rp 225 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari tahun depan, harta karun dari perairan Cirebon itu akan dilelang di Balai Lelang Christie`s Belanda. Inilah proyek eksplorasi pertama yang oleh pemerintah dipakai sebagai percontohan pengangkatan harta karun sesuai standar. Suatu proses yang baik, tertata dengan baik, accountable, semua pihak tahu baru dirilis tahun ini," jelas Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengangkatan harta karun di perairan Cirebon, bukan tak menemui kendala. Sebelumnya, perusahaan pelaksana eksplorasi di perairan Cirebon, yakni PT Paradigma Putra Sejahtera milik Adi Agung, menerima sejumlah tudingan. Di antaranya tuduhan mempekerjakan tenaga asing ilegal. Tak hanya itu, menurut Adi, pihaknya juga dituding melakukan penjualan ilegal dan pencurian. &amp;Kami dituduh melakukan pengangkatan dengan izinyang palsu," tambah Adi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data dari Departemen Kelautan dan Perikanan menyebutkan di perairan Indonesia sedikitnya ada 463 titik tenggelamnya kapal sejak abad XIV hingga XIX. Dari jumlah itu belum banyak yang sudah diangkat dan memberi sumbangan pendapatan negara. Menurut Luc Heyman, investor asing, birokrasi bertele-tele menjadi salah satu kendala mereka. Belum lagi saling sikut di antara mereka yang kerap mewarnai perburuan harta karun di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dampaknya, sejumlah tempat harta karun menjadi perburuan tidak resmi antarpencinta benda antik. Hal ini bisa terjadi karena banyak harta karun justru dieksplorasi secara diam-diam oleh penyelam tradisional. Itu diakui Hendro, kolektor keramik. Hendro mengaku beberapa benda koleksinya diperoleh dari para penyelam tradisional yang mendatangi rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perburuan di perairan Bangka Belitung, banyak mengandalkan para penyelam tradisional, terutama para nelayan yang biasa memasang perangkap ikan di dasar laut. Di antaranya Albert dan Beni. Tiga bulan silam, mereka menemukan bangkai kapal di Teluk Gelasa, dekat Kepulauan Bangka Belitung. Kapalyang teronggok di kedalaman 30 meter itu dipenuhi muatan, seperti keramik, porselin hingga senjata. Tim Sigi membuktikan adanya bangkai kapal yang belum jelas asal-muasalnya itu. Di sekitar kapal tersebut ditemukan harta karun berceceran, seperti piring dan botol keramik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan itu membuktikan bahwa potensi harta karun yang terkubur di dasar lautan Indonesia belum tergarap dengan baik. Tak heran pencurian dan pengangkatan ilegal terus marak. Hal itu diakui Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi. Menurut dia, hampir di seluruh perairanIndonesia, terdapat kapal-kapal yang karam pada beberapa abad silam. Paling banyak terdapat di wilayah paling barat Indonesia. Kita sudah tahu tiap lokasi dan nama jenis kapal ada datanya," kata Freddy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Freddy mengatakan, terdapat 700 sampai 800 titik harta karun yang potensial untuk diangkat. Namun diakui yang teridentifikasi baru 463 titik. Sampai sekarang lebih kurang sekitar 46 titik yang sudah diangkat atau sekitar 10 persen. &amp;quotTapi yang terjual melalui proses pelelangan dengan baik belum ada. Baru direncanakan tahun ini kerja sama dengan [Balai Lelang] Christie`s," tambah dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Freddy mengatakan, pengelolaan harta karun dari kapal karam tidak berjalan baik karena maraknya pencurian tersebut. Jika sudah terkena kasus pencurian, barang itu akan anjlok di pasaran. Seperi pengangkatan di Pulau Buaya oleh perusahaan milik Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Karena terkena kasus pencurian, harga benda-benda yang diangkat anjlok. Barang-barang seperti itu jumlahnya banyak. Ada ribuan potong yang tersimpan di beberapa tempat. Akhirnya diberikan ke museum," jelas Freddy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ke depan, Freddy mengatakan, tak menutup kemungkinan pemerintah bekerja sama dengan pihak asing, seperti pemburu harta karun sekelas Hatcher. Tentunya harus melalui izin atau proses yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang waktu perdagangan harta karun memang tak pernah sepi. Maklum, beratus atau beribu tahun lampau, lebih dari 450 kapal bermuatan dikabarkan terkubur di dasar lautan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun harta karun itu bukanlah harta tak bertuan. Sepanjang berada di wilayah kekuasaan Indonesia, berapa pun nilai ekonomi dan sejarahnya, tetap itu milik negara. Pengangkatan harta karun secara ilegal oleh siapa pun semestinya tak boleh terjadi lagi. Dan, lebih bijaksana pula, pemerintah segera menyiapkan jurus ampuh" menangkal penjarahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.liputan6.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-4482207416820971793?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/4482207416820971793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/harta-karun-di-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/4482207416820971793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/4482207416820971793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/harta-karun-di-indonesia.html' title='Harta Karun di Indonesia'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SuP7_BeNoFI/AAAAAAAAADM/o833h_A35Cs/s72-c/jar_brglazed-spouted_32_400.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-3614100481951520432</id><published>2009-10-25T14:07:00.001+07:00</published><updated>2009-10-25T14:09:30.025+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kliping'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kelautan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='benda cagar budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='maritim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekspedisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keramik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arkeologi bawah air'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arkeoogi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Setelah de geldermalsen dilelang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SuP5lay8_FI/AAAAAAAAADE/aRQzxe66W_o/s1600-h/scherben.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 216px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SuP5lay8_FI/AAAAAAAAADE/aRQzxe66W_o/s320/scherben.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396431199763496018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kisah harta karun dari kapal de geldermalsen yang dilelang, makin hangat. balai pelelangan christie setelah melelang harta tersebut menjadi terkenal. timbul reaksi setelah pelelangan harta itu.&lt;br /&gt;KISAH harta karun De Geldermalsen tampaknya akan semakin hangat. Bukan karena tim yang dibentuk pemerintah untuk meneliti lokasi harta karun itu sudah makan korban seorang peneliti hilang, melainkan juga karena pekan lalu baru saja berakhir penjualan barang-barang itu di London.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ini terjadi di Super Store Harrods, sebuah pertokoan eksklusif terbesar di kota itu. Dengan disorot cahaya lampu yang terang benderang, tampak barang-barang antik yang berupa porselen Cina itu semakm menggiurkan, meskipun harganya sangat menjulang. Bayangkan, porselen yang paling murah, berupa piring, mangkuk, pot bunga, dan cangkir kecil, ditawarkan dengan harga tidak kurang dari œ 35, atau sekitar Rp 60 ribu. Sementara itu, sebuah mangkuk besar, teronggok di sebuah sudut, dengan harga penawaran œ 30 ribu, atau Rp 51 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, belum bisa dipastikan berapa Harrods akan memperoleh hasil penjualan dan laba dari barang-barang ini. Sebab, lelang besar kedua baru akan dilakukannya di New York sekitar 15 September, Senin depan. Begitu juga hasil penjualan yang telah dilakukan di London itu, yang diduga telah terjual sekitar 50% hingga Sabtu pekan lalu, belum diketahui jumlahnya. "Kami belum melakukan perhitungan," kilah Mr. Morrison, panitia penyelenggara pelelangan Harrods, kepada Adi Pradhana dari TEMPO, Sabtu pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang jelas, seperti diakui Morrison, pihak Harrods sendiri membeli porselen-porselen antik itu dari arena lelang, House of Christie di Amsterdam, bulan Mei lalu, seharga œ 1,3 juta (Rp 2,25 milyar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, sikap Harrods ternyata lebih parah dari sikap Michael Hatcher, si penemu harta karun, yang menyebutkan penemuannya diperoleh dari perairan internasional. Coba saja, Harrods berlagak seolah-olah tidak tahu-menahu bahwa barang yang dibelinya tersangkut kasus internasional. Padahal, itu sudah tersiar sejak awal 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya benar-benar kaget, jika barang-barang ini benar hasil curian," ujar Morrison. Alasannya, pengangkatan barang dari dasar laut tentu akan memakan waktu yang cukup panjang. "Nah, kenapa pemerintah RI tidak melarang Hatcher waktu melakukan penggalian," katanya lebih lanjut, "Kami membeli dengan sah dari sebuah lelang yang dilakukan di muka umum," ucap Morrison.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harrods sendiri mempromosikan penjualan harta karun yang dibeli dari pusat lelang di Amsterdam itu dengan cerdik. Sebelum penjualan dimulai 22 Agustus lalu, Harrods menawarkan dagangannya itu dengan sebutan: Nanking Cargo. Dan dengan memanfaatkan ribut-ribut di media massa yang mempersoalkan status dan lokasi harta karun itu, dalam iklan di International Herald Tribune, Harrods mengiklankan: "Pameran spektakuler di tengah perdebatan letak tenggelamnya kapal itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang yang dijual Harrods, London, memang barang yang dibelinya dari pusat lelang di Amsterdam. Dan balai lelang terkenal di Belanda itu mengaku bisa menjual barang-barang itu karena pemerintah Indonesia dengan batas waktu tertentu tak mampu memberi jawaban segera tentang: apakah lokasi harta karun itu di perairan Indonesia atau termasuk perairan internasional. Sekalipun kemudian Indonesia bisa membuktikan Geldermalsen berada pada posisi 00ø 36' 25" U-105ø 08' 50"T, yang termasuk wilayah perairan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuktian ini memang terlambat karena Balai Lelang Christie, setelah Nanking Cargo habis terjual, berhasil memperoleh nilai US$ 15 juta, atau sekitar Rp 16,6 milyar. "Saya rasa tak perlu mengomentari lagi, karena sudah banyak ditulis di media massa," kata Harts Nijtstad, pimpinan Christie, kepada Sapta Adiguna dari TEMPO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Harts, selain memperoleh komisi 12,5% dari harga barang De Geldermalsen yang terjual, balai lelangnya mendapatkan hikmah lain dengan hebohnya harta yang telah terjual itu. Sebab, ternyata, kehebohan tersebut telah membuat Christie menjadi lebih terkenal, dan mengalami pelonjakan omset yang cukup besar. Bayangkan, hanya dengan melakukan beberapa lelang kecil, ditambah lelang Nanking Cargo itu, omset Christie satu semester sudah melebihi omset yang diperolehnya tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan 60 kantor cabang yang tersebar di 24 negara, balai lelang yang didirikan James Christie pada 1766 ini memang bukan hanya merupakan balai tertua. Tapi juga termasuk balai lelang yang besar di dunia, dengan rekor-rekor nilai lelang yang sulit dilampaui. Tapi harga beberapa barang De Geldermalsen tampaknya tetap termasuk dalam kategori nilai tertinggi. Contohnya 33 perangkat makanan porselen berwarna biru-putih, terjual di hari pertama dengan harga 1,4 juta gulden. "Ini merupakan rekor penjualan perangkat makanan yang tertinggi," ujar Harts. Padahal, sebuah piala raksasa yang memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi, karena berasal dari koleksi Louis XV, hanya dijual Christie dengan harga 524 ribu gulden pada 1981. Juga lukisan karya Jan Gossaert van Mabuse dilepas 855 ribu gulden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut, memang, kalau Christie bisa mencapai prestasi seperti itu. Sebab, dalam prakteknya, balai lelang ini memang sangat memperhatikan kepuasan para pembelinya. Misalnya untuk melakukan pengamanan kualitas barang yang akan dilelang, seorang penjual diharuskan mengirimkan barangnya seminggu sebelum acara lelang. Itu pun dilakukan, setelah dua minggu sebelumnya si pemilik barang mengirimkan katalog, sebagai bahan penelitian awal. Baru setelah itu, para ahli benda-benda kuno berdiskusi menentukan harga jual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk menarik para pembelinya, Christie selain mengirimkan katalog-katalog tersebut juga memasang iklan di banyak negara. Pembeli yang tida bisa hadir cukup mengirimkan surat penawaran melalui pos. Dan jika pembeli itu menang, hasil lelang diantar sampai ke alamat dengan jaminan asuransi. Soal keaslian barang, pembeli tidak perlu merasa ragu. "Dalam waktu 21 hari setelah barang diterima, jika kemudian terbukti barang itu palsu, ia bisa menghubungi kami untuk mendapatkan kembali uangnya," ujar Harts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari aturan jual beli yang diterapkan, tampaknya status hukum barang itu tidak mendapat perhatian yang khusus. Tentang barang-barang De Geldermalsen Harts tetap menatakan: Harta karun itu berada di peralran internasional. Padahal, setelah pelelangan berlangsung, beberapa waktu lalu Michael Hatcher, bersama dengan dua rekan menyelamnya, C.H.R. Jorg dan Max De Rham, sempat mendatangi Museum Arsip Belanda. Dari sana mereka akhirnya menjadi lebih yakin, De Geldermalsen berada di wilayah perairan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatcher, yang dilahirkan di Inggris pada 1939, memang tipe orang yang memiliki kegigihan lumayan. Terbukti dengan awal pengembaraan yang dilakukannya ke Australia, ketika ia menjadi yatim piatu pada usia 13 tahun. Anak dr. Bernado ini juga memiliki ambisi untuk menjadi seorang kaya. Itulah sebabnya, ketika Hatcher sudah memiliki pekerjaan sebagai pedagang alat pembakaran daging, ia tetap melakukan hobinya sebagai penyelam. Yang belakangan baru diketahui, ternyata, menyelam baginya bukan hanya sekadar hobi, tapi juga alat untuk mencapai cita-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakin dengan kemampuannya, pada 1966 Hatcher melepaskan usaha pokoknya sebagai pedagang. Dibelinya sebuah kapal, dan bersama lima anak buahnya ia berlayar menuju Kepulauan Pasifik Selatan. Namun, usaha barunya yang lebih banyak bersifat spekulatif ini, rupanya, tidak dengan begitu saja mendatangkan untung. Hingga 1980, tak ada hasil yang berarti diperolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses baru bisa diraih ketika Hatcher mendapat sponsor penyelaman dari Soo Hin Ong, seorang pengusaha dari Singapura. Itu terjadi pada 1981, dan pada tahun itu juga, ia melakukan penyelaman di perairan yang berjarak 325 km dari pantai Malaysia selatan. Yang terakhir, daerah ini juga ternyata termasuk ke dalam wilayah Indonesia. Dari sini ia berhasil mengangkat 23 ribu keramik porselen, yang kemudian dilelangnya di Balai Christie pada awal 1984, dengan harga US$ 2,3 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil yang cukup besar itu, rupanya, tidak membuat Hatcher puas. Selain telah mendapatkan bagian dari hasil penjualan bersama itu, juga mendapatkan keuntungan 1,2 juta gulden dari penjualan porselen yang merupakan haknya sebagai pemimpin ekspedisi. Setelah penjualan yang terakhir itu, Hatcher bergegas kembali ke daerah sekitar lokasi ditemukannya keramik-keramik tadi. Akhirnya sampai di perairan antara Pulau Mapur dan Pulau Merapas, termasuk Kecamatan Bintan Timur, Riau, yang merendam Geldermalsen beserta seluruh harta karunnya selama 234 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De Geldermalsen sendiri, yang dibuat oleh Cabang VOC di Zeeland pada 1748, merupakan kapal terbesar pada zaman itu. Seperti yang diceritakan oleh Profesor Jaap Bruyn, 48, ahli sejarah maritim, di Universitas Leiden kepada TEMPO, Geldermalsen memiliki panjang 15 meter, lebar 12 meter, dan bobot mati 12 ribu ton. Konon, ketika tenggelam pada 3 Januari 1752, kapal itu dinakodai oleh Jan Dideric Moreil. Pelayaran perdananya yang diarahkan ke Cina memang bertujuan mencari teh, sutera, dan emas untuk dijual ke Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketiga macam muatan itu, muatan yang termahal adalah sutera dengan rencana penjualan ke Eropa. Muatan termahal kedua, yakni 225 batang emas, direncanakan akan dijual ke India. Sebab, konon, ketika itu harga emas di India sedang bagus-bagusnya. Sedangkan 150 ribu barang pecah belah buatan Cina, yang ketika itu belum termasuk antik, sengaja dibawa Geldermalsen untuk menjaga keseimbangan kapal. Nah, ketika dalam perjalanan dari Cina ke Eropa itulah, kapal yang muatannya ketika itu ditaksir satu juta gulden tenggelam di perairan sedalam 40 meter, dengan 100 awak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun bisa bercerita panjang tentang Geldermalsen, Jaap Bruyn sendiri tidak berani menyebutkan, di wilayah siapa lokasi tenggelamnya kapal itu. "Seharusnya itu ditanyakan pada pemerintah Indonesia," katanya. Bahkan sebaliknya, Jaap Bruyn merasa heran, kenapa pemerintah Indonesia baru meributkan hal itu setelah lelang selesai. "Padahal, jauh sebelum pelelangan itu dilakukan, media massa internasional sudah menyiarkan berita penemuan itu secara besar-besaran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar kalau Jaap Bruyn lantas sangat tertarik pada penemuan Hatcher itu. Sebab, ternyata, Jaap Bruyn juga pernah sekali berjumpa dengan Hatcher, di Museum Arsip Nasional. Menurut dia, penyelam itu tidak hanya tangguh tapi juga cerdik. Contohnya, ketika menawarkan penemuannya pada Balai Lelang, Hatcher menyebutkan barang-barang itu ditemukannya di sebuah kapal Nanking. Tapi ketika pemerintah Belanda menggertak akan mengklaimnya, baru ia mengaku, bahwa kapal itu adalah De Geldermalsen. "Tapi dengan embel-embel, bahwa itu ditemukannya di perairan internasional," tutur Jaap Bruyn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain Jaap Bruyn, tentunya lain juga pendapat Te.B. Oekhorst, juru bicara Kementerian Luar Negeri Belanda. Ketika posisi tepat dari lokasi karamnya De Geldermalsen belum : ditemukan, Oekhorst tetap berpendirian lokasi itu berada di perairan internasional. Bahkan ketika Hatcher baru tuntas mengangkut hasil jarahannya, pihak Belanda dengan tenang mengirimkan surat pemberitahuan pada pemerintah Indonesia untuk menegaskan pendiriannya. Tapi ketika itu, sempat juga terlontar imbauan dari Oekhorst, "Jika Indonesia hendak mengadakan tuntutan, ya, pada pemerintah Belanda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jelas adakah tantangan Oekhorst itu bakal dijawab pemerintah Indonesia. Yang jelas, setelah tim yang menyelidiki lokasi harta karun itu menyelesaikan tugasnya sampai pekan lalu belum ada pernyataan itu dari pemerintah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi Kusumah, Laporan: Adi Pradhana (London) &amp; Sapta Adiguna (Paris)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-3614100481951520432?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/3614100481951520432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/setelah-de-geldermalsen-dilelang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/3614100481951520432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/3614100481951520432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/setelah-de-geldermalsen-dilelang.html' title='Setelah de geldermalsen dilelang'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SuP5lay8_FI/AAAAAAAAADE/aRQzxe66W_o/s72-c/scherben.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-1793803491028228344</id><published>2009-10-25T13:42:00.001+07:00</published><updated>2009-10-25T14:06:11.135+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kliping'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kelautan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='benda cagar budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='maritim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekspedisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keramik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arkeologi bawah air'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Harta karun dari dasar heloputan hilangnya penyelidik harta karun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SuP4uBUNaeI/AAAAAAAAAC8/nePGa7dSAkM/s1600-h/Hatcher+with+stolen+Indonesia+museum+property.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SuP4uBUNaeI/AAAAAAAAAC8/nePGa7dSAkM/s320/Hatcher+with+stolen+Indonesia+museum+property.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396430248030857698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Harta karun di kapal voc yang tenggelam, terlanjur dilelang michael hatcher. tim yang dipimpin lopa, memastikan harta itu berada di perairan indonesia. santoso pribadi, anggota tim peneliti hilang.&lt;br /&gt;SANTOSO Pribadi, alias Ucok, hingga kini belum muncul ke permukaan laut -- belum ketahuan hidup atau mati. Tubuh peneliti arkeologi bawah laut itu, bahkan sampai kini, belum ditemukan. Jasadnya, boleh jadi, rusak sudah digerayangi hewan ganas, ikan hiu misalnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Entahlah. Tak seorang pun tahu pasti. Yang terang ialah, setelah sebelas hari tim SAR bekerja, akhirnya, pencarian tak diteruskan. Tim SAR pun dibubarkan. Keputusan itu ditetapkan di Tanjung Uban, Pulau Bintan, sekitar 100 km dari Tanjungpinang, Riau, 6 September pekan lalu. Mengapa jasad Ucok begitu sulit ditemukan? Betulkah arus dan angin yang deras telah menghanyutkan korban menjauh dari lokasi semula? Betulkah ia tersangkut di suatu karang? Bahkan beredar pula dugaan, Santoso telah "dihabisi" oleh oknum tertentu. Betulkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pertanyaan memang layak timbul. Sebab, 25 Agustus, ketika peristiwa nahas itu terjadi, sesungguhnya, kerja tim dengan Santoso sebagai anggota dapat dianggap usai. Sebab, apa yang dicari oleh tim itu sudah dapat ditemukan. Toh, penyelaman terus dilakukan, dan baru dinyatakan selesai justru setelah Santoso, 33, tenggelam, dan tak muncul kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, tim peneliti itu dibentuk oleh Menteri Kehakiman, 19 Agustus lalu. Inilah tim antardepartemen, yang diketuai oleh Prof. Dr. Baharuddin Lopa, dan koordinasi lapangan di laut dipimpin oleh Laksamana TNI Anwar Affandi. Santoso Pribadi sendiri adalah anggota tim yang berasal dari Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Ditjen Kebudayaan. Ia memang seorang dari sedikit ahli arkeologi bawah laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan keahliannya, tentu, sangat diperlukan dalam tim itu. Sebab, inilah tim yang dibentuk setelah heboh perkara harta karun, yang digaruk oleh Michael Hatcher, tempo hari. Seperti diketahui, sekitar 160 ribu barang pecah belah antik buatan Cina, serta 225 batang emas lantakan, ditemukan Hatcher di kapal De Geldermalsen milik VOC, yang katanya tenggelam di perairan antara Pulau Mapur dan Merapas 234 tahun silam. Harta karun itulah yang kemudian dijual di Balai Pelelangan Christie di Amsterdam, Mei lalu, yang secara total menghasilkan US$ 15 juta, atau sekitar Rp 16,6 milyar. Suatu jumlah yang mengagetkan karena itu berarti, lebih dari separuh APBD Provinsi Daerah Istimewa Yogya yang jumlahnya sekitar Rp 30 milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatcher sendiri menyebut harta karun itu ditemukannya di perairan internasional. Te B. Oekhost, juru bicara Kementerian Luar Negeri Belanda, juga berpendapat, De Geldermalsen tenggelam di perairan internasional. Tapi betulkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebenarnya pangkal masalah. Ketidaktegasan justru berasal dari pihak Indonesia sendiri. Menurut Oekhost, pada Sapta Adiguna dari TEMPO, dalam wawancara di Negeri Belanda, pihak Indonesia, jauh hari sebelum lelang dilaksanakan, telah mendapat pemberitahuan. Tapi, Deparlu RI rupanya belum mempunyai bukti bahwa harta karun itu ditemukan di perairan Indonesia. Karenanya, Deparlu lantas meminta konfirmasi dari Departemen Dalam Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Depdagri, ternyata, juga tak dapat memastikan di manakah harta karun itu digaruk. Maka, agar akurat, perlu penelitian. Untuk itu, pihak Deparlu lantas meminta pada Belanda agar pelaksanaan lelang ditunda tiga bulan. Indonesia toh tak memiliki catatan ihwal posisi kapal-kapal dagang VOC yang tenggelam di masa lalu. Dan, berakhirlah masa tiga bulan yang diminta. Begitulah, harta karun itu pun akhirnya dilelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lelang terjadi, heboh pun pecah. Adalah Presiden Soeharto sendiri yang kemudian menugasi Menteri Mochtar Kusumaatmadja, untuk menyelesaikan perkara harta karun itu. Kepada pers, bulan Juli lalu, Menlu, yang ahli hukum laut internasional itu, berkata, perlu penelitian apakah ada dasarnya bagi Indonesia untuk mengklaim harta karun itu. Untuk itu, "Banyak instansi tersangkut, dan penyelesaiannya harus dilakukan secara terpadu," kata Menlu Mochtar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim peneliti terpadu, dengan anggota antara lain Santoso Pribadi, itulah yang kemudian dibentuk oleh Menteri Kehakiman. "Tim hanya ditugasi untuk mencari dan menentukan lokasi, di koordinat mana harta karun yang diributkan itu ditemukan," kata Ketua Tim Baharuddin Lopa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Menteri Kehakiman Ismail Saleh, tim bertugas di perairan Riau, yakni di sekitar Pulau Mapur, Pulau Kayu Ara, Pulau Marapas, dan karan Heloputan. Upaya menentukan koordinat yang pasti, tempat harta karun itu "dijarah", dimulai 1 Agustus lalu. Selain kapal patroli Bea Cukai, tim menggunakan kapal survei Bima Saki milik Ditjen Perla. Kapal survei ini memiliki peralatan navigasi yang lengkap dan modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santoso sebenarnya hanyalah penyelam pendukung. Bahkan Menteri Ismail, menyebutnya, berstatus penyelam cadangan, "yang mungkin kurang berpengalaman". Dalam operasi itu, ada enam orang penyelam profesional dari Ditjen Perla yang mendampinginya. Di antaranya, Kiman Shun, Hermanto, dan Joko Susanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim tiba di perairan Piau 21 Agustus. Esoknya, pencarian situs pertama dilakukan di perairan Kayu Ara. Upaya ini dilakukan oleh tiga penyelam profesional dari Ditjen Perla. Memang, adalah menjadi kewajiban, menyelam berbarengan tiga orang. Ucok tak ikut menyelam. Setelah menyelam sekitar 30 menit, ketiganya muncul di permukaan. Hasilnya? Nihil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski upaya mencari belum optimum, hanya sekitar setengah jam, entah mengapa, tim memutuskan berpindah lokasi, 22 Agustus itu juga. Tim hengkang ke daerah karang Heloputan. Di sini, kembali tiga penyelam profesional dari Ditjen Perla turun ke dasar laut. Berkali-kali penyelam itu diterjunkan, toh tak menghasilkan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha pencarian itu dilanjutkan hingga Minggu, 24 Agustus. Begitulah, selama tiga hari itu, para penyelam profesional dari Subdirektorat Salvage dan Pekerjaan Bawah Air, Direktorat Jasa Maritim, gagal menemukan sedikit pun tanda-tanda berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim makan siang di KM Bima Sakti. Santoso Pribadi lantas memutuskan turut menyelam. Begitulah, pada pukul 13.55, Santoso, Hermanto, dan Joko terjun lewat buritan kapal. Mereka menyelam pada kedalaman 35 meter. Pukul 14.10, ketiga penyelam muncul dengan membawa sembilan mangkuk putih, dan 17 pecahan piring buatan Cina. "Santoso sendirilah yang kemudian mencuci barang-barang itu," kata Letkol (Pol.) A. Latuihamallo, Kadit Intelpampol Polda Riau, pada Agus Basri dari TEMPO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda-tanda menggembirakan mulai tampak. Bahkan, pada penyelaman yang pertama itu, Santoso mengatakan ia melihat jangkar kapal di dasar laut. Ia juga melihat sebuah meriam yang penuh dengan karang. Dan, malam harinya, arkeolog lulusan UI (1983) itu membuat skesta yang melukiskan keadaan dasar laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tibalah hari nahas, 25 Agustus. Santoso kembali turut menyelam dengan pasangan yang sama dengan hari sebelumnya. "Saya sempat memesan pada Santoso, agar dibawakan segenggam pasir dan sebuah karang dari dasar laut," ujar Latuihamallo. Ucok, yang hari itu mengenakan celana abu-abu, bersama Hermanto, berhasil mengikat jangkar yang dilihatnya. Juga meriam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengikat jangkar dan meriam itu, penyelam itu kembali muncul ke permukaan. Ternyata, Santoso kembali membawa temuan baru. Ayah seorang anak berusia sekitar setahun itu datang membawa sebuah mangkuk kecil, sebuah piring pecah, dan sebongkah batu bata. Dan yang mengagetkan, ia juga membawa pesanan Latuihamallo. "Santoso memberikan pesanan saya, dengan wajah berseri-seri," kata Latuihamallo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua barang itu ditemukan Santoso dari kerangka kapal yang tenggelam. Penelitian kemudian membuktikan, seperti diungkapkan Menteri Ismail Saleh, barang-barang pecah belah itu buatan Cina dari Dinasti Ming. Bahkan barang-barang kuno yang ditemukan itu, ternyata, sejenis dan seumur dengan barang-barang kuno yang dijual Michael Hatcher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan pun turun 25 Agustus siang. Angin keras. Gelombang besar. Langit diselimuti awan gelap. Para penyelam pun beristirahat. Tapl, sekitar pukul 13.00, cuaca terang benderang. Laut seakan tak berombak. Santoso kembali berniat mcnyelam. Ia tampak menggebugebu. Begitulah, 37 menit kemudian, setelah hujan reda, Santoso kembali menyelam. Kali ini, ia sendirian saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semangatnya memang tangguh," kata Salam Herwanto, Kadit Sospol Provinsi Riau, salah seorang anggota tim pada Bersihar Lubis dari TEMPO. Tapi, sepuluh menit berlalu Ucok toh tak muncul. Baru dua puluh menit kemudian, tepat di atas lokasi harta karun, muncul gelembung-gelembung yang seakan membelah permukaan laut. Di kejauhan tampak tubuh Santoso sekelebatan, dan kemudian menghilang lagi, dan tak pernah muncul kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dirjen Habibie, itulah yang keempat kali Santoso menyelam. Total, tim itu telah melakukan 13 kali penyelaman di berbagai spot. Tercatat Hermanto dua kali menyelam, Joko Susanto lima kali, dan Kiman Kihun enam kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiman, memang, salah seorang penyelam dari Ditjen Perla, yang tergolong senior. Adalah Kiman, yang kemudian menyadari setelah dua puluh menit tak kunjung muncul -- ada sesuatu yang tak beres pada Santoso. Ia lantas segera menyelam. Tapi sepuluh menit kemudian, ia muncul tanpa hasil. "Tak terlihat sama sekali," komentarnya dengan napas mendengus satu-satu karena kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah telah terjadi. Operasi pun dihentikan. "Saya segera mengirim berita ke Kapolres Tanjungpinang. Saya meminta agar para nelayan dengan perahu-perahunya dikerahkan," kata Latuihamallo. Di musim angin yang ganas seperti itu, biasanya nelayan enggan melaut. Toh mereka berdatangan hendak membantu. Sementara itu, tim SAR pun dikerahkan pula. Kapal dan helikopter milik ALRI, juga KRI Teluk Semangka, datang ke lokasi. Tapi, hingga 6 September lalu, Santoso tak kunjung ditemukan. Operasi pencarian pun lantas dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa malapetaka itu sampai terjadi? Bukankah Ucok, anak Laksamana Muda (pur) itu, tergolong pandai berenang dan menyelam? Sejak di sekolah dasar, Ucok telah gemar olah raga di perairan, seperti ski air. Bahkan, di kala SMA, ia aktif di olah raga menyelam. "Kami sekeluarga memang menyukai olah raga ski air," kata Diah, salah seorang dari adik Santoso pada Yusroni dari TEMPO .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu. Ucok, dengan tinggi sekitar 170 cm, dan berat 65 kg, pernah pula dilatih di bidang arkeologi dasar laut di Muangthai. Inilah program SPAFA (Seameo Project in Archeology and Fine Arts). Pertama pada 1985, untuk tingkat dasar. Kedua kali pada 1986, untuk tingkat lanjut (advanced). "Ia mendapat pengakuan sebagai peserta terbaik dari pemerintah Muangthai," kata sebuah sumber pada Syatrya Utama dari TEMPO. "Ia juga mendapat pengakuan untuk penyelaman dengan kedalaman 40 meter di bawah permukaan laut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Menteri Kehakiman Ismail Saleh, kesehatan Santoso ketika operasi penyelaman dilakukan baik. Menteri juga menyebut bahwa Ucok pernah dididik di Muangthai selama enam bulan, dengan kemampuan menyelam kedalaman 30 meter,"tapi mungkin kurang berpengalaman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun, toh ada yang mempersoalkan, mengapa anggota tim lainnya membiarkan Santoso pergi menyelam seorang diri. Adakah semacam kesengajaan dalam musibah itu ? Mungkinkah karena iri hati para penyelam profesional dari Ditjen Perla -- yang ternyata "tak berhasil" menemukan posisi kapal tempat harta karun itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya, sebelum tim itu dibentuk oleh Menkeh pada 19 Agustus, telah datang sebuah kapal swasta ke perairan Riau. Itulah kapal KM Rader, milik PT Sac Nusantara. Kapal berbobot mati 5.945 ton itu, sejak 25 Juni hingga 8 Juli, telah lebih dulu mengaduk-aduk perairan sekitar 60 mil dari Tanjungpinang. Dipimpin Nakoda Rafles, kapal itu menurunkan empat orang penyelam, juga dengan tujuan mencari lokasi kapal VOC, dan harta karun seperti yang dijarah Hatcher. Dalam ekspedisi ini, penyelaman itu dipimpin oleh David Bernet, dan juga diawasi oleh Kiman Sehun dari Direktorat Jasa Maritim, Ditjen Perla. Kiman inilah pula yang kemudian menjadi penyelam dalam tim yang dibentuk Menkeh, dan yang diketuai Baharuddin Lopa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 13 hari beroperasi, KM Rader juga menemukan ratusan pecahan piring dan mangkuk, yang juga diperkirakan berasal dari masa Dinasti Ching. Kepala Ditsospol Provinsi Riau, Salam Herwanto, pada 4 Juli silam, sempat memerintahkan agar kapal itu diseret ke Tanjungpinang. Kapal itu semula diduga beroperasi tanpa izin. Setelah diperiksa, ternyata kapal itu telak melapor ke syahbandar. Bahkan operasinya di bawah pengawasan Direktorat Jasa Maritim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada polisi, David Bernet, penyelam asal Selandia Baru, mengatakan, melihat tanda-tanda ada tiga bangkai kapal. Salah satu di antaranya adalah De Geldermalsen, kapal milik VOC yang tenggelam pada awal 1752. Dua kapal lainnya, diduga kapal perang, juga milik VOC. Ketiga bangkai kapal itu berada pada koordinat 00ø 57' 09" Lintang Utara, 105 10' 22" Bujur Timur. Bandingkanlah hasilnya, dengan koordinat yang ditemukan oleh tim resmi yang dipimpin Lopa: 00ø 36' 25" Lintang Utara, 105ø 08' 50" Bujur Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa sebuah perusahaan kapal swasta, dengan penyelam dipimpin orang asing, diberi izin beroperasi, justru setelah heboh harta karun mencuat di permukaan? Dan diawasi sendiri oleh Direktorat Jasa Maritim? Pertanyaan itu bisa diperpanjang terutama mengingat sebelumnya telah ada pertemuan resmi antara pihak Direktorat Jasa Maritim Ditjen Perla dan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Ditjen Kebudayaan. Dari yang terakhir ini hadir sang direktur sendiri, Uka Tjandrasasmita -- atasan Almarhum Santoso Pribadi. Pertemuan pada 15 April 1986 itu justru berlangsung di ruang kerja Kepala Direktorat Jasa Maritim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolonel (L) Saman Abdullah, Kasubdi Salvage dan Pekerjaan Bawah Air, Ditjen Perla, dengan tenang menunjukkan surat izin operasi bagi KM Rader milik PT Sac Nusantara. "Sac Nusantara tidak bersalah," katanya pada Mohamad Cholid dan Ahmed Soeriawidjaja dari TEMPO. "Kapal Rader itu tidak ada kaitannya dengan pencurian harta karun di Riau. Kami yang menginstruksikan agar KM Rader mengambil sample dan mengecek koordinat tempat ditemukannya harta karun itu," tambahnya. Kapal ini tergolong modern dengan peralatan navigasi yang lengkap. Ada alat deteksi dasar laut, yang juga dilengkapi dengan robot. Robot inilah yang diturunkan ke bawah air, seraya membawa kamera. Dan, lewat kamera inilah dapat dipantau keadaan dasar laut pada luas tertentu. Akhirnya, KM Rader itu memang mendapatkan sample yang dimaksud. "Beberapa sample berupa piring antik telah diserahkan pada Direktorat Purbakala," tambah Saman Abdullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat terpisah, kepada dua wartawan yang sama, Dirjen Perla JE. Habibie tsnus terang bilang? "Izin itu telah disalahgunahan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab." Katanya kemudian melalui telepon, "PT Sac Nusantara mendapatkan izin atas permohonan sendiri, untuk melakukan salvaging. Bahwa izin itu telah dibelokkan, saya tidak tahu." Dan kembali Dirjen menegaskan, tidak benar ada pihak swasta yang ditugasi mengecek koordinat tempat harta karun itu ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh pertanyaan tetap mengganjal. Menurut suatu sumber, atas permintaan Baharuddin Lopa, ketiga penyelam dari Ditjen Perla memang telah diperiksa. Tak jelas apa hasil pemeriksaan itu. Kiman Sehun sendiri tak bersedia memberi komentar. "Saya diinstruksikan oleh atasan saya, agar tidak memberi keterangan," katanya pada Riya Sesana dari TEMPO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirjen Perla Habibie berpendapat, Santoso Pribadi meninggal, "karena kecelakaan biasa, sesuatu yang mungkin saja terjadi." Tapi ia membantah bahwa itu terjadi karena pengamanan yang tak beres. "Semua prosedur untuk penyelaman telah dilakukan," ujarnya. Santoso tak hanya diperiksa kesehatannya yang, ternyata, beres. Tapi, semua perlengkapan yang dibawanya untuk menyelam juga lebih dulu diperiksa. Yakni, antara lain, tabung oksigen, regulator, sepatu but untuk menyelam, sepatu katak (fins), masker, pelampung yang bekerja otomatis, serta kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menduga Santoso tewas karena kehabisan oksigen. Tapi itu pun dibantah. Ucok memanggul tabung yang berisi 8 liter oksigen. "Paling tidak, cukup bagi penyelam bertahan selama 88 menit di bawah air," kata Saman Abdullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa yang menyebabkan Santoso tak muncul kembali? Adakah sindikat tertentu yang menghabisinya? "Itu tak mungkin terjadi," kata Kadit Intelpampol Polda Riau, Letkol A. Latuihamallo. "Semua areal di sekitar daerah penyelaman dikawal ketat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latuihamallo lebih melihat hilangnya Santoso, karena disikat ikan hiu. Tapi tak sedikit orang yang menyesalkan mengapa tim Lopa itu terjun di bulan Agustus. Sebab, inilah masa ketika angin barat dan selatan bertindak dahsyat, membangkitkan gelombang dan arus laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah telah terjadi. Hilangnya Santoso masih diselimuti misteri. Juga, masihkah misteri, ihwal hilangnya harta karun itu sendiri. Seberapa besar peranan Gimin Bachtiar? Betulkah ia tokoh yang membantu Michael Hatcher? Siapa lelaki ini? Pada Gimin, yang hingga kini masih diperiksa yang berwajib inilah -- berbagai kunci penjarahan harta karun di kapal VOC itu bergantung jawabannya (lihat Gimin, Pensiunan Mantri Polisi.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kini sudah pasti ialah bahwa pemerintah telah dapat memastikan: Harta karun itu memang terdapat di wilayah perairan Indonesia. "Kami telah memastikan, harta karun yang dicuri Hatcher itu berada di titik koordinat yang jelas-jelas berada di wilayah Indonesia," kata Lopa. Berapa mil tepatnya? "Hampir berada di perbatasan antara wilayah hukum RI dan perairan internasional. Tapi masih kurang 12 mil dari batas pantai perairan internasional."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum jelas benar apakah pemerintah RI akan mengklaim harta karun yang digaruk Hatcher dan sudah pula dilelang itu. Tapi Habibie menduga bahwa ada kerja sama antara Gimin Bachtiar dan Michael Hatcher. Dan, dengan cepat sang dirjen mengatakan, "Jangankan di laut, sedangkan di darat saja sulit mengawasi pencurian," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saur Hutabarat, Laporan Biro Jakarta &amp; Medan&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-1793803491028228344?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/1793803491028228344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/harta-karun-dari-dasar-heloputan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/1793803491028228344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/1793803491028228344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/harta-karun-dari-dasar-heloputan.html' title='Harta karun dari dasar heloputan hilangnya penyelidik harta karun'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SuP4uBUNaeI/AAAAAAAAAC8/nePGa7dSAkM/s72-c/Hatcher+with+stolen+Indonesia+museum+property.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-7774459387581281740</id><published>2009-10-25T13:16:00.000+07:00</published><updated>2009-10-25T13:19:10.453+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='benda cagar budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='maritim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekspedisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arkeologi bawah air'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><title type='text'>Hatcher dan Beking Maut</title><content type='html'>Michael Hatcher muncul lagi dalam urusan bangkai kapal. Kali ini dia menggandeng mantan petinggi militer dalam bisnis harta karunnya.&lt;br /&gt;Isi ruangan terlihat mulai dikemasi malam itu. Tumpukan buku dan disket sudah disusun di meja. "Saya sudah tak punya hak lagi di kamar ini," kata Syafri Burhanudin, Direktur Riset dan Eksplorasi Sumber Daya Nonhayati Laut, Departemen Perikanan dan Kelautan, pekan lalu. Beberapa hari sebelumnya, dua jabatannya sekaligus dicopot, yakni sebagai Direktur dan Ketua Tim Teknis Panitia Nasional Benda Muatan Asal Kapal Tenggelam (Pannas), yang mengurus izin pengangkatan harta karun di laut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apa kesalahan ahli kelautan dari Universitas Hasanuddin Makassar itu? Menurut bisik-bisik di Departemen Perikanan dan Kelautan, Syafri tergusur karena menghalangi pengangkatan bangkai kapal yang tampaknya didukung sejumlah mantan petinggi tentara. Para mantan petinggi ini adalah satu angkatan Menteri Freddy Numberi di Angkatan Laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Syafri, sikap kerasnya mempunyai dasar. Perusahaan para mantan laksamana itu menggaet Michael Hatcher, 64 tahun, yang beberapa kali "menipu" pemerintah. Kasus pertama Hatcher dengan pemerintah terjadi dalam kasus pengangkatan bangkai kapal Gerdelmalsen, 1985. Pemerintah Indonesia mengaku sebagai pemilik sah reruntuk kapal dagang Belanda tersebut karena ia karam di perairan Karang Heloputan, di arah tenggara Pulau Bintan. Hatcher mengklaim bahwa pengangkatannya berada di perairan internasional. Izin pengangkatan yang diperolehnya pun dari pemerintah Belanda. Untuk menegasikan tuntutan Indonesia, muatan Gerdemalsen pun disulap namanya menjadi Nanking Cargo. Dari nilai muatan US$ 17,5 juta ini, Indonesia tak kecipratan satu sen pun. Dosa kedua, pada 1999, dalam kasus kapal Teksing. Pengangkatan di perairan Selat Gelasa Bangka itu dilakoni dengan dokumen palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya Indonesia adalah ladang harta karun bagi pria kelahiran Inggris yang berstatus warga negara Australia ini. Kekayaan dan ketenaran diperolehnya dari lautan biru khatulistiwa. Karenanya, dengan berbagai cara, ia mencoba kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal Januari 2001, Michael Hatcher diketahui kembali beroperasi di perairan Tidore-Ternate, digandeng oleh PT Tuban Oceanic Research and Recovery. Kegiatan ini di luar kontrol Panitia Nasional, karena ketika pihak TORR mengajukan permohonan security clearance, nama Hatcher tidak ada. Belakangan diketahui terjadi pengangkatan. Namun, ketika diributkaan, PT Tuban membuat pernyataan kepada Dirjen Imigrasi, Juni 2002, bahwa mereka bukan penjamin Michael Hatcher. Pengangkatan itu, katanya, tanpa sepengetahuan mereka. Oleh Pannas, pernyataan PT Tuban diduga hanya akal-akalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, Oktober 2004, PT Marindo Alam Internusa, sebuah perusahaan pengangkatan baru, mengajukan permohonan izin survei ke Panitia Nasional. Di situ tertulis nama Michael Hatcher sebagai pemimpin survei dilampiri berbagai macam dokumen kerja. Permintaan ini mengejutkan, karena di belakang Marindo ada setumpuk nama pensiunan laksamana, bahkan seorang mantan kepala staf AL. Sementara itu, siapa pun tahu, Hatcher masuk daftar hitam di Indonesia. Bagaimana mungkin, perwira yang dulu memburu Hatcher kini bersekutu dengan buronnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Utama Marindo, Laksamana Muda (Purn) Heribertus Sudiro, punya alasan sendiri. Menurut Sudiro, seperti tertulis dalam suratnya ke Panitia Nasional, Hatcher sudah mendapat lampu hijau dari Menteri Kelautan Rokhim Dahuri (saat itu) ketika nama itu disodorkan oleh Dewan Komisaris perusahaan tersebut. Selain itu, tak ada bukti warga negara Australia itu terkena cekal. Bahkan Hatcher sudah punya izin kerja. Buktinya, Hatcher sama sekali tidak mendapat kesulitan melakukan survei di perairan Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika tim Panitia Nasional melakukan pengecekan ulang, ditemukan dokumen kerja Hatcher adalah dokumen bodong. Izin yang diakui atas nama Hatcher, setelah diperiksa di Departemen Tenaga Kerja, ternyata milik orang lain. Alamat Marindo juga fiktif. Dalam dokumen Hatcher, perusahaan itu mencantumkan alamat Jalan Tulodong Atas Senayan. Padahal, alamat asli Marindo adalah Kelapa Gading. Rokhmin juga mengelak telah memberi lampu hijau. "Saya sudah lupa," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, setelah ribut-ribut di Departemen Perikanan dan Kelautan, yang menyebabkan Syafri terpental dari kursinya, Sudiro berbalik sikap. "Saya tidak kenal Michael Hatcher. Nama itu saya tidak tahu," katanya pada Edy Can dari Tempo. Ia juga membantah perusahaannya bergerak di bisnis pengangkatan harta karun. "Bisnis saya di bidang perikanan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi selaku Ketua Panitia Nasional menyatakan sudah memberi masukan pada koleganya di Marindo Alam untuk tak mempekerjakan Hatcher. "Jangan sampai dia menyelam di Indonesia. Kalau sebagai konsultan sih bisa," katanya. Itu pun, kata Freddy, Hatcher tak bisa berkantor di Jakarta. "Silakan saja di luar. Kan dia (Hatcher) punya kantor di Singapura."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatcher sendiri tak diketahui keberadaannya. Tapi kepada seorang kawan yang pernah membantunya mengangkat kapal Teksing ia pernah berkorespondensi. "Saya berusaha untuk secara legal mendapatkan izin ke Indonesia. Saya ingin kembali ke Indonesia," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arif A. Kuswardono, Edy Can, Indra Darmawan &lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-7774459387581281740?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/7774459387581281740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/hatcher-dan-beking-maut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/7774459387581281740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/7774459387581281740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/hatcher-dan-beking-maut.html' title='Hatcher dan Beking Maut'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-3718622538659500828</id><published>2009-10-11T11:27:00.003+07:00</published><updated>2009-10-11T11:31:40.803+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arkeologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='prasejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kliping'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Melacak Manusia Purba Gunung Kidul</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/StFfVA6UzVI/AAAAAAAAAC0/c1HCQCF80uo/s1600-h/3521569p.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/StFfVA6UzVI/AAAAAAAAAC0/c1HCQCF80uo/s320/3521569p.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391195043565718866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak 700 ribu tahun lalu Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, telah menjadi kompleks hunian manusia purba. Mereka tinggal di ceruk dan goa di wilayah perbukitan karst ketika mayoritas daerah lain di DIY masih tergenang air.&lt;br /&gt;Akhir Agustus lalu Kompas menyusuri ceruk dan goa yang di dalamnya pernah ditemukan bukti hunian manusia prasejarah dengan berbekal data Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala DI Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Artefak tulang dan batu dengan mudah ditemui. Butuh perjuangan lebih keras menemukan lokasi goa dan ceruk yang umumnya terletak di tengah ladang pertanian tadah hujan atau hutan jati.&lt;br /&gt;Apalagi tak ada petunjuk ceruk maupun goa tersebut sisa peninggalan zaman prasejarah. Dengan berpedoman alamat berupa nama dusun dari hunian prasejarah, kami mengunjungi sebagian dari ratusan bekas hunian makhluk prasejarah di Gunung Kidul.&lt;br /&gt;Kami mengandalkan petunjuk warga yang masih mencari hijauan makanan ternak di antara tanaman jati yang meranggas pada musim kemarau. Warga desa umumnya mengenali nama ceruk-ceruk tersebut, tetapi jarang mengetahui sejarah ceruk.&lt;br /&gt;Di perbatasan antara Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, seperti di Kecamatan Ponjong, kami menemukan beberapa ceruk yang pernah dihuni manusia purba. Ceruk atau goa payung itu memiliki sirkulasi udara yang baik, memperoleh cahaya matahari, dan dekat dengan sumber air berupa telaga atau sungai bawah tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Song Bentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada di mulut sebuah ceruk di Dusun Bentar, Desa Kenteng, Kecamatan Ponjong, yang dinamai Song Bentar, keteduhan segera menelusup. Terik matahari tengah hari seperti diusir jauh oleh bayang-bayang ceruk. Stalaktit batu kapur putih mengilap bergelantungan di atap ceruk.&lt;br /&gt;Song Bentar terletak di pucuk bukit karst. Hanya butuh lima menit berjalan kaki mendaki untuk mencapainya. Dari bawah bukit, ceruk itu terlihat seperti mulut naga yang menganga lebar. Pepohonan jati di depan ceruk menyamarkan bentuk utuh Song Bentar bila dilihat dari kaki bukit karst.&lt;br /&gt;Warga sekitar, seperti Sagiyo dan Tumiyem, yang bermukim tepat di bawah Song Bentar, mengaku sama sekali tidak tahu menahu ceruk tersebut pernah menjadi hunian manusia purba sampai mereka dilibatkan dalam penggalian oleh para arkeolog. Sagiyo mengaku ikut membantu pengangkatan beberapa rangka manusia purba yang tubuhnya relatif utuh.&lt;br /&gt;Menurut data Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala DIY, di Song Bentar terdapat fragmen tengkorak dan tulang manusia purba Homo sapiens. Setidaknya ada delapan individu, terdiri dari lima dewasa, dua anak-anak, dan satu bayi. Beberapa alat batu, seperti batu giling, beliung persegi, dan mata panah pun banyak dijumpai di lokasi ini.&lt;br /&gt;Sekitar 2 kilometer dari Song Bentar, yaitu di Dusun Kanigoro, Desa Tambakromo, Kecamatan Ponjong, terdapat hunian manusia purba lain, yaitu Song Blendrong. Ceruk ini menyerupai Song Bentar, tetapi jauh dari perkampungan penduduk dengan jalan beraspal yang masih bisa dilewati kendaraan roda dua atau roda empat.&lt;br /&gt;Song Blendrong juga kaya dengan artefak peninggalan manusia purba. Di Song Blendrong kami dikejutkan banyaknya tulang yang kemungkinan berasal dari manusia purba beserta peralatan dari batu, tanduk, maupun serut dari kerang berserakan di lantai ceruk.&lt;br /&gt;Lantai Song Blendrong telah banyak digali untuk diambil kandungan fosfatnya sehingga artefak itu bermunculan ke permukaan. Para petani di sekitar mulut goa baru percaya setelah melihat sendiri tulang yang di berada sana.&lt;br /&gt;Ceruk di Song Bentar sebenarnya juga pernah ditambang, tetapi penambangan fosfat tersebut berhenti setelah kandungan fosfat menyusut.&lt;br /&gt;Keindahan ceruk dan goa prasejarah di Gunung Kidul ini memang terancam lenyap karena aktivitas pertambangan yang tidak terkendali. Apalagi goa dan ceruk prasejarah ini terletak di ladang milik penduduk setempat. Padahal, kehadiran ceruk dan goa dalam kealamiannya dapat memberikan gambaran kemampuan nenek moyang kita bertahan hidup dengan menyiasati alam.&lt;br /&gt;Kami juga mengunjungi Goa Seropan di Dusun Semuluh, Desa Gombang, Kecamatan Semanu. Goa dengan aliran sungai bawah tanah itu hanya bisa ditelusuri menggunakan senter dan belum pernah diteliti para arkeolog, tetapi juga kaya dengan tulang purba.&lt;br /&gt;Bersama rekan-rekan penelusur goa dari Acintyacunyata Speleological Club, kami menyusuri lorong baru di Goa Seropan yang sebelumnya tertutup lumpur. Lorong di kedalaman 60 meter dari permukaan tanah ini tiba-tiba muncul setelah banjir besar di sungai bawah tanah tahun lalu.&lt;br /&gt;Seperti di bebatuan tepian aliran sungai bawah tanah pada lorong lama yang kaya cetakan tulang purba, lorong baru ini pun menyingkap potongan tulang kaki, gigi, dan rusuk mamalia yang belum diketahui jenisnya karena belum pernah diteliti.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;mawar kusuma - kompas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-3718622538659500828?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/3718622538659500828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/melacak-manusia-purba-gunung-kidul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/3718622538659500828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/3718622538659500828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/melacak-manusia-purba-gunung-kidul.html' title='Melacak Manusia Purba Gunung Kidul'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/StFfVA6UzVI/AAAAAAAAAC0/c1HCQCF80uo/s72-c/3521569p.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-289504273858562917</id><published>2009-10-05T09:11:00.002+07:00</published><updated>2009-10-05T09:16:46.911+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kliping'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='benda cagar budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konservasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arkeoogi'/><title type='text'>Masjid-masjid Tua di Aceh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SslXA2fjwPI/AAAAAAAAACs/AVNMo2VBKUE/s1600-h/baiturrahman_1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SslXA2fjwPI/AAAAAAAAACs/AVNMo2VBKUE/s320/baiturrahman_1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388934101265006834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali mendapat pengaruh Islam, Aceh memiliki banyak peninggalan bersejarah, terutama masjid-masjid berusia ratusan tahun. Baik pada masa Kerajaan Samudera Pasai—kerajaan Islam pertama di Nusantara—maupun pada masa penjajahan, masjid-masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai tempat kegiatan sosial, termasuk pendidikan. Bahkan, masjid juga sebagai pusat kebudayaan Islam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar masjid itu sekarang kurang terawat. Kurang mendapat perhatian. Untuk itu, Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata berusaha mewujudkan kesadaran sejarah masyarakat yang akhirnya mampu memperkokoh integrasi bangsa dengan cara memublikasikan fungsi dan peranan masjid-masjid bersejarah tersebut,” kata Direktur Nilai Sejarah Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Sabri beberapa waktu lalu di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabri mengatakan, untuk memperkenalkan kembali masjid-masjid bersejarah di provinsi berjuluk ”Serambi Mekkah” itu, Depbudpar telah mengundang sejumlah wartawan mengunjungi masjid-masjid tua di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie, Kabupaten Aceh Barat, dan Kota Sabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang terawat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan masjid pascabencana tsunami, 26 Desember 2004, seperti sebuah keajaiban yang diperlihatkan Sang Pencipta. Bayangkan, bangunan di sekitar roboh dan hanyut dihantam tsunami, tetapi masjid berdiri kokoh dan hanya sedikit mengalami kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga yang berlindung di masjid selamat dari tsunami. Masjid Raya Baiturrahman dan Masjid Baiturrahim, di pusat Kota Banda Aceh, misalnya, sampai sekarang sudah menjadi tujuan wisata. Setiap hari masjid itu ramai dikunjungi wisatawan Nusantara dan mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas mencermati, tidak hanya di Kota Banda Aceh. Di kota/kabupaten lain di Provinsi Aceh juga memiliki kekayaan khazanah bangsa berupa masjid tua. Selain menarik digali dan dikaji sejarah dan arsitekturnya, masjid kuno di Aceh juga bisa dikembangkan sebagai obyek wisata spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Provinsi Aceh memiliki banyak masjid bernilai sejarah, berusia ratusan tahun. Perlu digali kesejarahannya dan dikaji arsitekturnya untuk pengetahuan masyarakat. Juga menarik untuk dijadikan obyek wisata spiritual,” kata Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Irwandi Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Aceh Besar Bukhari Daud secara terpisah di Indrapuri mengatakan, masjid tua di Aceh Besar, yakni Benteng Masjid Indrapuri, yang dibangun abad ke-10 Masehi, juga menginspirasi arsitektur Masjid Muslimin Pancasila di sejumlah daerah di Nusantara. Bahkan, masjid tertua dan terkenal di Demak pun mencontoh arsitektur Benteng Masjid Indrapuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Desa Manjing, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Aceh Barat, didapati masjid tua yang dimakan rayap, yakni Majid Tuha Manjing. ”Masjid ini sangat layak dijadikan benda cagar budaya dan direkonstruksi,” kata Dahlia, Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Sabang, Masjid Jamik Baiturrahman, masjid tempat jemaah calon haji Indonesia dikarantina sebelum diberangkatkan dengan kapal ke Mekkah pada masa-masa sebelum 1924, karena kurang sosialisasi tentang benda cagar budaya sudah berubah bentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Masjid ini sangat bersejarah bagi umat Islam di Indonesia. Ketika orang Indonesia naik haji ke Mekkah, yang dulu satu-satunya dengan perjalanan laut, jemaah calon haji dari sejumlah daerah di Indonesia dikarantina di Masjid Jamik Baiturrahman sebelum diberangkatkan dari Pelabuhan Sabang. Di seputar masjid terdapat penginapan,” kata Jamin Seda, anggota staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Nilai Sejarah Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sangat menyayangkan kondisi Masjid Jamik Baiturrahman sudah berubah bentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini akibat kurang tersosialisasinya Undang-Undang tentang Benda Cagar Budaya di Provinsi Aceh. Mestinya, kalau ingin membangun masjid, jangan mengubah dan menghancurkan masjid tua yang sudah bisa dikategorikan benda cagar budaya. Namun, bangun masjid baru berdampingan dengan masjid tua,” kata Sabri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di Sabang masjid tua sudah berubah bentuk, di Kabupaten Pidie, masjid tua Tengku Chik di Pasi yang dibangun abad ke-17 di Gampong Guci Rumpong, Kecamatan Peukan Baro, tetap terpelihara baik. Di sisi kanan dibangun masjid baru yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun terpelihara baik, sangat disayangkan juga karena terjadi perubahan mencolok, seperti pengecatan seluruh unsur-unsur bangunan, yaitu dinding, tiang, dan pola hias pada balok-balok pengikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan masjid di sisi utara terdapat dua buah guci Siam dengan warna glasir coklat tua, yang diletakkan dalam sebuah cangkup, merupakan hadiah dari Kerajaan China. Air yang diambil dari guci, menurut warga setempat, diyakini bisa mengobati segala penyakit. Masjid tua ini banyak dikunjungi warga Aceh dan juga wisatawan luar negeri, terutama Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga terjadi di Masjid Gunong Kelang di Gampong Gunong Kleng, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid tua yang dibangun pada abad ke-20 ini (belum terdata tahun pembangunannya) juga dicat seluruh bangunannya.(YURNALDI)&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-289504273858562917?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/289504273858562917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/masjid-masjid-tua-di-aceh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/289504273858562917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/289504273858562917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/masjid-masjid-tua-di-aceh.html' title='Masjid-masjid Tua di Aceh'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SslXA2fjwPI/AAAAAAAAACs/AVNMo2VBKUE/s72-c/baiturrahman_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-3548106337258061806</id><published>2009-10-02T14:18:00.006+07:00</published><updated>2009-10-02T14:25:52.683+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kelautan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='maritim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekspedisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keramik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arkeologi bawah air'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Kapal Harta Karun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SsWq2DTIcCI/AAAAAAAAACU/lfIsyoLoBqo/s1600-h/111.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SsWq2DTIcCI/AAAAAAAAACU/lfIsyoLoBqo/s320/111.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387900374793875490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jarang ada sejarah yang tersingkap bagaikan dongeng. Namun, coba bayangkan ini: Sebuah kapal dagang Portugal abad ke-16 membawa harta dalam bentuk emas dan gading. Dalam perjalanan menuju pelabuhan rempah-rempah terkenal di pantai India, kapal ini tersingkir jauh dari lintasan pelayarannya karena diterjang badai hebat saat berusaha mengelilingi ujung selatan Afrika. Berhari-hari kemudian, dalam keadaan rusak parah kapal itu terhempas di pantai misterius berkabut yang bertabur lebih dari seratus juta karat berlian. Sindiran kejam terhadap impian para pelaut itu untuk menjadi kaya. Tak seorang pun dari orang-orang yang terdampar ini berhasil pulang ke kampung halamannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kisah mustahil ini mungkin akan terkubur selamanya seandainya tidak terjadi penemuan mencengangkan pada April 2008, yakni penemuan kapal karam di pesisir pantai Sperrgebiet—sebuah daerah sewa-pakai tambang berlian De Beers yang luar biasa kaya dan dikenal amat terlarang bagi umum di dekat muara Sungai Jingga di pesisir Namibia sebelah selatan. Geolog perusahaan yang bekerja di daerah pertambangan U-60 secara tak sengaja menemukan sesuatu yang semula ia kira adalah sebongkah batu berbentuk setengah bulatan yang mulus. Karena penasaran, dia memungutnya dan langsung menyadari bahwa benda itu adalah inggot tembaga. Tanda berbentuk trisula di permukaannya yang sudah lapuk ternyata adalah tanda resmi Anton Fugger, salah seorang taipan terkaya era Renaisance di Eropa. Inggot tembaga itu adalah inggot yang ditukar dengan rempah-rempah di kawasan Hindia pada separuh pertama abad ke-16.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para arkeolog kemudian secara mencengangkan menemukan 22 ton inggot tembaga di bawah pasir, bersama dengan meriam dan pedang, gading dan astrolab, musket (jenis senapan kuno) dan rompi dari jalinan mata rantai—seluruhnya ada ribuan artefak. Juga emas, tentu saja, dalam jumlah berlimpah: lebih dari 2.000 koin indah yang berat—sebagian besar berupa excelente Spanyol berukir gambar Ferdinand dan Isabella. Terdapat pula sedikit koin Venesia, Moor, Prancis, dan koin lainnya selain koin Portugal yang sangat elok dengan lambang kebesaran Raja João III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kapal karam tertua yang pernah ditemukan di pantai Afrika sub-Sahara, juga yang paling berharga. Nilainya dalam dolar tak terkira. Namun, yang mengobarkan gairah para arkeolog dunia bukanlah harta karunnya, melainkan kapal karam itu sendiri: Sebuah East Indiaman Portugal dari tahun 1530an, tahun yang merupakan jantung masa penemuan, dengan muatan harta dan barang dagang yang masih utuh, terkubur tak terjamah dan tak terduga di dalam hamparan pasir ini selama hampir 500 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah kesempatan yang tak ternilai,” kata Francisco Alves, sesepuh arkeolog kelautan Portugal dan kepala arkeologi kelautan Kementerian Kebudayaan. “Pengetahuan kita mengenai kapal-kapal kuno hebat ini hanya segelintir. Ini baru kapal kedua yang pernah digali para arkeolog. Semua kapal karam lainnya dijarah pemburu harta karun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemburu harta karun tidak akan pernah merepotkan di sini, di salah satu tambang berlian yang paling ketat penjagaannya di dunia, di pantai yang namanya pun—Sperrgebiet—berarti “zona terlarang” dalam bahasa Jerman. Jangankan menjarah, para petinggi De Beers dan petinggi pemerintahan Namibia yang menangani lahan sewa-pakai sebagai usaha patungan bernama Namdeb menangguhkan kegiatan operasional mereka di seputar lokasi kapal karam itu. Mereka memanggil tim arkeolog, dan selama beberapa pekan yang sangat menggairahkan mereka bukan menambang berlian, namun menyingkap sejarah.&lt;br /&gt;Para peneliti pastilah membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengkaji barang yang berlimpah ruah yang didapatkan sedikit demi sedikit dari Kapal Karam Berlian itu, begitu julukannya sekarang. “Begitu banyak yang tidak diketahui,” kata Filipe Vieira de Castro, koordinator kelahiran Portugal yang memimpin program arkeologi kelautan di Texas A&amp;amp;M University. Castro menghabiskan waktu lebih dari sepuluh tahun mengkaji beberapa kapal dagang Portugal atau nau, dan belakangan ini mengembangkan model komputer berdasarkan sekelumit bukti arkeologi yang ada. “Kapal karam ini memberi kami wawasan baru tentang banyak hal, mulai dari rancangan badan kapal, tali-temali, dan bagaimana kapal-kapal ini berevolusi, hingga kegiatan sehari-hari seperti cara awak kapal memasak di kapal dan barang apa saja yang dibawa orang ketika melakukan perjalanan panjang ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, dugaan melalui pengkajian berbagai naskah kuno dan arsip kerajaan di Lisbon ini menghasilkan sekumpulan kepingan informasi yang memadai untuk menyingkap kisah perjalanan yang sudah lama dilupakan. Juga menguak kapal hilang yang ternyata dipenuhi ironi dan alegori, sama banyaknya dengan emas yang ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini dimulai pada suatu hari yang cerah di musim semi di Lisbon—tepatnya Jumat, 7 Maret 1533—saat beberapa nau berukuran besar dalam armada kapal menuju India berlayar dengan gagahnya menyusuri Sungai Tagus dan keluar menuju Samudra Atlantik yang luas dengan bendera dan layar berkibar-kibar serta sutera dan beludru warna-warni berjurai dari benteng kapal yang tinggi menjulang. Semua ini kebanggaan Portugal ibarat pesawat ruang angkasa ulang-alik pada masa mereka. Nau bertolak menempuh petualangan 15 bulan untuk membawa pulang harta dalam bentuk merica dan rempah-rempah dari benua nun jauh di sana. Goa, Cochin, Sofala, Mombasa, Zanzibar, Ternate: Tempat-tempat bersejarah yang dulu terasa begitu jauh seperti jauhnya bintang, kini merupakan pelabuhan yang sering dikunjungi, nama-nama yang begitu dikenal orang Portugal, berkat kecerdikan dan teknologi maju yang mereka miliki saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal-kapal yang berlayar menyusuri Sungai Tagus pada 1533 itu merupakan kapal yang kokoh dan piawai; dua di antaranya masih baru, milik raja. Salah satunya adalah Bom Jesus—Yesus yang Baik—dinakhodai seseorang bernama Dom Francisco de Noronha dan mengangkut sekitar 300 orang pelaut, serdadu, saudagar, pendeta, bangsawan, dan budak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENYEMATKAN NAMA dan kisah pada kapal karam tanpa nama berusia lima abad, yang ditemukan secara tak sengaja di pesisir yang begitu luas, memerlukan pengkajian cermat. Bukan sekadar mengandalkan nasib baik—terutama jika diperkirakan kapal karam itu adalah kapal karam di masa awal Kerajaan Portugal. Meskipun setelah itu Kerajaan Spanyol meninggalkan arsip yang menggunung, namun gempa bumi, tsunami, dan kebakaran yang hebat pada November 1755 bisa dikatakan menghilangkan Lisbon dari peta. Hal ini juga menyebabkan Casa da India, gedung yang menyimpan sejumlah besar peta, bagan, dan catatan pelayaran yang berharga, runtuh ke dalam Sungai Tagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kejadian itu menimbulkan lubang besar dalam sejarah negeri kami,” kata Alexandre Monteiro, arkeolog kelautan dan peneliti yang bertugas di Kementrian Kebudayaan Portugal. “Tanpa arsip India untuk diteliti, kami harus beralih ke cara lain yang lebih imajinatif untuk menemukan informasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, petunjuk yang penting datang dari koin yang ditemukan dalam jumlah berlimpah pada kapal karam itu—terutama koin Raja João III yang indah dan langka. Koin-koin tersebut dicetak hanya selama beberapa tahun saja, dari 1525 sampai 1538. Setelah itu semua koin ditarik dari peredaran, dilebur, dan tak pernah diterbitkan kembali. Menemukan begitu banyak koin baru yang mengilap di kapal karam itu merupakan indikasi kuat bahwa kapal itu berlayar dalam kurun waktu 13 tahun tersebut. Apalagi muatan inggot tembaga menyiratkan bahwa kapal itu dalam pelayaran menuju India untuk membeli rempah-rempah, bukan pelayaran pulang.&lt;br /&gt;Meskipun arsip lengkap Casa da India sudah lama hilang, beberapa potongan berharga ada di perpustakaan dan dalam kumpulan arsip yang selamat dalam gempa bumi 1755. Di antaranya terdapat Relações das Armadas, yang dikenal sebagai paparan tentang armada kapal. Kajian saksama terhadap paparan terlengkap menunjukkan 21 kapal hilang dalam pelayaran menuju India antara 1525 dan 1600. Hanya satu di antaranya yang tenggelam di dekat Namibia: kapal Bom Jesus, yang berlayar pada 1533 dan “lenyap di belokan Tanjung Harapan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk lain yang memikat tentang Bom Jesus datang dari sepucuk surat yang ditemukan Monteiro dalam arsip kerajaan. Bertanggal 13 Februari 1533, surat itu mengungkapkan bahwa Raja João baru saja memerintahkan seorang ksatria berangkat ke Seville untuk menjemput emas bernilai 20.000 crusado dari kelompok saudagar yang hendak menanamkan modal dalam armada kapal yang akan segera berlayar menuju India—Bom Jesus ada dalam armada itu. Para arkeolog mula-mula kebingungan karena menemukan begitu banyak koin Spanyol di kapal karam itu—sekitar 70 persen kepingan emas merupakan koin excelente, sesuatu yang tak terduga ada di kapal Portugal. “Surat ini berhasil menjelaskan keanehan tersebut,” kata Monteiro. “Para investor Spanyol tampaknya menanamkan modal sangat besar dalam armada kapal 1533 ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku langka yang besar dari abad ke-16 berjudul Memória das Armadas bahkan memberikan pandangan sekilas yang memikat tentang Bom Jesus. Buku yang diterbitkan sebagai edisi kenangan, semacam buku bacaan ringan berukuran besar dan berat dari zaman Renaisance, memuat gambar semua kapal yang berlayar menuju India setiap tahun setelah Vasco da Gama merintis rutenya pada 1497. Di antara gambar untuk tahun 1533 tampak sebuah ilustrasi berupa dua tiang kapal dengan layar terkembang, menghilang ditelan ombak dan nama “Bom Jesus” disertai sebuah epitaf sederhana: perdido—yang artinya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi? Tampaknya, sekitar empat bulan setelah keberangkatan yang meriah dari Lisbon, armada pertama yang berlayar pada 1533 diterjang badai besar hingga porak-poranda. Beritanya tidak terlalu terperinci. Catatan perjalanan yang ditulis Nakhoda Dom João Pereira, kepala armada tersebut, hilang. Yang tersisa hanyalah pengakuan seorang kerani yang mengatakan bahwa laporan itu sudah diterima dan disebutkan bahwa Bom Jesus hilang dalam cuaca buruk di sekitar tanjung. Mudah saja membayangkan apa yang mungkin terjadi kemudian: Kapal yang porak-poranda oleh badai itu terperangkap dalam angin kencang dan gulungan ombak di sepanjang pesisir Afrika di bagian barat daya dan terseret ratusan kilometer ke arah utara. Ketika semak belukar Gurun Namib yang terbawa angin muncul dalam pandangan, nau yang malang itu menabrak batu yang menjulang sekitar 140 meter dari tepi pantai. Hantaman mengerikan itu memecahkan sebongkah besar buritan kapal, menumpahkan berton-ton inggot tembaga ke laut dan mengirimkan Bom Jesus ke kuburannya.&lt;br /&gt;LIMA ABAD kemudian, di situs arkeologi kelautan yang suasananya ganjil, sekelompok peneliti bertopi dengan kulit terlindung tabir surya tampak sedang melakukan ekskavasi kapal karam yang tergeletak sekitar enam meter di bawah permukaan laut. Sementara itu, Samudra Atlantik dihalangi oleh dinding penahan ombak dari tanah yang kokoh dan besar dengan sedikit kebocoran di sepanjang dasarnya. Kamera televisi sirkuit tertutup (CCTV) yang dipasang di sekeliling batas situs mengawasi gerakan setiap orang—yang mengingatkan bahwa di tengah kehebohan penemuan ini, kawasan tersebut tetap sebuah tambang berlian. Di tambang yang kaya, butiran berlian mungkin saja tercampur dengan pasir yang dibersihkan dengan sikat oleh para arkeolog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau saja bukan karena inggot tembaga yang membuat segalanya menjadi berat, tidak akan ada benda apa pun yang bisa ditemukan di sini,” kata Bruno Werz, direktur Institut Arkeologi Kelautan Afrika Selatan, yang dipanggil dari Cape Town untuk membantu penggalian. “Badai dan ombak selama lima abad pasti sudah menyapu habis semuanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Werz dan sekelompok peneliti meneliti kapal karam itu dengan sangat cermat: mengukur, memotret, memindai situs itu satu demi satu milimeter dengan pemindai laser tiga dimensi yang tercanggih. Mereka berusaha, antara lain merakit kembali saat-saat terakhir mengerikan yang dialami kapal itu yang pasti sangat tak menyenangkan. Sisa-sisa serpihan lambung dan bangunan di bagian muka kapal, serta layar, tiang, dan tali-temali berserakan dalam alunan ombak, mengapung ke utara bersama arus dan mungkin berceceran dalam perjalanannya. Para pekerja tambang menemukan balok tali-temali dari kayu berukuran besar di daerah pesisir empat kilometer jauhnya ke arah utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagaimana nasib penumpang kapal, Dom Francisco dan yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Badai musim dingin di sepanjang garis pantai di sini bukan main-main,” kata Dieter Noli, arkeolog di tambang itu, yang telah tinggal dan bekerja di bagian Gurun Namib di kawasan ini selama lebih dari sepuluh tahun. “Pasti sangat mengerikan, dengan kecepatan angin lebih dari 125 kilometer per jam dan ombak raksasa yang pecah. Merapat ke pantai boleh dikatakan mustahil. Akan tetapi, ketika badai sudah reda, dan kapal terseret ke pantai pada suatu hari tenang dan berkabut yang juga kita alami saat ini, maka hal itu membuka banyak kemungkinan menarik yang bisa terjadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti itu mungkin saja terjadi. Meskipun tulang jari kaki manusia di dalam sebuah sepatu ditemukan terjepit di bawah tumpukan kayu menunjukkan bahwa sedikitnya satu orang tidak berhasil selamat, tulang itu adalah satu-satunya sisa tubuh manusia yang ditemukan dari kapal karam itu. Beberapa barang pribadi ditemukan pula di antara artefak. Semua fakta ini menyebabkan para arkeolog yakin bahwa walaupun kapal pecah di sepanjang garis pantai, banyak penumpang walaupun tak sebagian besar, berhasil mencapai daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa yang selanjutnya terjadi? Ini adalah kawasan yang paling tidak ramah di Bumi, tanah kosong tak berpenghuni yang diselimuti pasir dan semak belukar yang membentang ratusan kilometer. Saat itu musim dingin. Mereka kedinginan, basah, kelelahan, dan kehilangan yang mereka butuhkan. Tidak ada harapan akan adanya bala bantuan karena tidak seorang pun di luar sana yang tahu bahwa mereka masih hidup, juga tempat mereka terdampar. Tidak mungkin pula ada kapal yang kebetulan lewat ke kawasan itu; mereka berada jauh dari rute pelayaran yang biasa dilalui para pedagang. Sementara untuk kembali ke Portugal, entah dengan cara apa—yah, bolehlah dikatakan semua penumpang kapal itu ibarat terdampar di Mars.&lt;br /&gt;Meskipun begitu, menurut Noli kedaan orang-orang yang terdampar itu belum tentu berakhir buruk. Sungai Jingga hanya berjarak 25 kilometer ke arah selatan kapal karam itu. Sumber air tawar ini ditumbuhi tanaman yang mungkin mereka lihat di saat mengapung di muaranya. Banyak pula makanan di sekitar situ: kerang, telur burung laut, dan keong darat gurun yang berlimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, orang-orang Portugal itu mungkin bertemu dengan para pakar yang mengetahui cara bertahan hidup di daerah itu. Musim dingin adalah musim ketika para pemburu-pengumpul, yang di masa kini dikenal sebagai Bushmen, berkelana ke arah utara di sepanjang garis pantai ini dengan harapan menemukan bangkai paus sikat dari selatan yang sesekali terdampar ke pantai di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara orang-orang Portugal ini menyikapi perkenalan tersebut bergantung pada mereka sendiri, kata Noli. “Jika mereka bisa melakukan tawar-menawar, bukan berusaha untuk berkuasa, mereka pasti dapat hidup berdampingan dengan damai Beberapa kelompok pengelena-pemburu di sepanjang sungai itu tidak bersaing untuk berebutan sumber daya sehingga tidak ada alasan untuk memusuhi pendatang baru. Sebaliknya, seorang dom Portugal berperawakan tegap mungkin bahkan dipandang sebagai calon menantu yang istimewa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun nasib akhir mereka, penumpang Bom Jesus yang selamat tidak pernah mengira ironi indah yang mereka utarakan dalam doa sekian waktu yang silam di Lisbon ternyata dikabulkan. Mereka bertolak menempuh perjalanan panjang untuk mencari kekayaan, bersumpah di altar dan ikon untuk mencapai kebaikan dan kesuksesan. Dan di sinilah mereka sekarang, terdampar di pantai yang memberikan harta yang tak terbayangkan—bentangan gurun sepanjang 300 kilometer yang kekayaannya sungguh menakjubkan, yaitu berlian bermutu tinggi. Di awal tahun 1900an seorang penjelajah bernama Ernst Reuning bahkan bertaruh dengan temannya tentang berapa lama waktu yang diperlukan untuk memenuhi cangkir kaleng dengan permata yang ditemukan berserakan di pasir. Pekerjaan itu hanya memerlukan waktu sepuluh menit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu yang begitu lama, sungai besar itu menghanyutkan jutaan, bahkan milyaran berlian dari tempat penyimpanan sejauh 2.735 kilometer di pedalaman. Hanya batu permata yang paling keras dan cemerlang sajalah, beberapa di antaranya dengan berat ratusan karat, yang berhasil bertahan dalam perjalanan tersebut. Berlian-berlian itu tumpah ke Samudra Atlantik di muara sungai dan terhempas ke pantai, dibawa arus dingin yang sama, yang suatu hari menyapu Bom Jesus menuju ajalnya.&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-3548106337258061806?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/3548106337258061806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/kapal-harta-karun_02.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/3548106337258061806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/3548106337258061806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/10/kapal-harta-karun_02.html' title='Kapal Harta Karun'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SsWq2DTIcCI/AAAAAAAAACU/lfIsyoLoBqo/s72-c/111.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-1645931248222753374</id><published>2009-09-30T13:43:00.001+07:00</published><updated>2009-10-02T14:30:45.836+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arkeologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kliping'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='benteng'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pariwisata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolonial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Depbudpar Tolak Pembangunan Hotel</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SsWr_DI9ysI/AAAAAAAAACk/WXdGXV-KIYU/s1600-h/IMG_1673.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SsWr_DI9ysI/AAAAAAAAACk/WXdGXV-KIYU/s320/IMG_1673.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387901628881685186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SsWr-0QVPoI/AAAAAAAAACc/0fG_0lWkx_o/s1600-h/vastenburgcn3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SsWr-0QVPoI/AAAAAAAAACc/0fG_0lWkx_o/s320/vastenburgcn3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387901624886050434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 30 September 2009 | 04:14 WIB&lt;br /&gt;Solo, Kompas -&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menolak rencana pembangunan hotel dan mal di situs Benteng Vastenburg di Kota Solo, Jawa Tengah, karena dianggap akan merusak bangunan cagar budaya, situs, dan lingkungannya. Masyarakat mendesak pemerintah agar mengembalikan benteng tersebut kepada negara.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketua Presidium Komunitas Peduli Cagar Budaya Nusantara (KPCBN) Agus Anwari menyatakan, Selasa (29/9) di Solo, pihaknya menerima surat dari Direktur Peninggalan Sejarah, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Depbudpar, Junus Satrio Atmodjo pada Senin berisi jawaban atas surat KPCBN kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata tertanggal 7 September 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KPCBN mendesak Menbudpar serta Menteri Pertahanan agar tidak memberikan rekomendasi kepada investor PT Benteng Gapura Tama yang akan membangun hotel dan pusat perbelanjaan modern di areal benteng peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1757 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat itu, Depbudpar menyatakan penghargaan dan dukungan terhadap aspirasi KPCBN untuk melestarikan Benteng Vastenburg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Benteng dan lingkungannya tetap dapat dikelola oleh pihak swasta. Namun, tanpa melakukan pengurangan, penambahan, perubahan, pemindahan, pembongkaran, dan pendirian bangunan baru di dalam dan di sekitarnya,” demikian isi surat Depbudpar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus menambahkan, menyusul surat dari Depbudpar, KPCBN meminta Wali Kota Solo tidak menerbitkan izin mendirikan bangunan berbentuk apa pun di kawasan Benteng Vastenburg kepada pihak investor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wali Kota juga diminta mengeluarkan surat keputusan yang melarang siapa pun melakukan pengurangan, penambahan, perubahan, pemindahan, pembongkaran, dan pendirian bangunan baru di dalam dan sekitar benteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami mendesak Pemerintah Kota Solo agar mengeluarkan situs Benteng Vastenburg sebagai area komersial di dalam rencana tata ruang dan tata kota. Kami juga meminta pemerintah mengembalikan kepemilikan Benteng Vastenburg kepada negara,” kata Agus. (ASA)&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-1645931248222753374?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/1645931248222753374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/09/depbudpar-tolak-pembangunan-hotel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/1645931248222753374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/1645931248222753374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/09/depbudpar-tolak-pembangunan-hotel.html' title='Depbudpar Tolak Pembangunan Hotel'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SsWr_DI9ysI/AAAAAAAAACk/WXdGXV-KIYU/s72-c/IMG_1673.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-4300774590752700088</id><published>2009-09-28T10:35:00.000+07:00</published><updated>2009-09-28T10:38:10.277+07:00</updated><title type='text'>Ada Apa sih di Balik Komik Doraemon ??</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SsAvaslL_iI/AAAAAAAAAAw/x2a330n6GiU/s1600-h/ab-doraemon2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SsAvaslL_iI/AAAAAAAAAAw/x2a330n6GiU/s320/ab-doraemon2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5386357290025352738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Manusia sebagai makhluk budaya, mengandung pengertian bahwa manusia menciptakan budaya dan kemudian kebudayaan memberikan arah dalam hidup dan tingkah laku manusia. Kebudayaan paling sedikit mempunyai tiga kategori yaitu:&lt;br /&gt;a. Berupa wadah bagi suatu kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma dan peraturan. Hal-hal ini berada dalam pikiran warga masyarakat, atau dalam tingkat perkembangan tertentu sudah berupa tulisan-tulisan, karangan-karangan warga masyarakat yang bersangkutan.&lt;br /&gt;b. Kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas manusia yang berpola, menciptakan suatu sistem sosial bagi masyarakat yang bersangkutan.&lt;br /&gt;c. Berupa wadah  untuk menghasilkan benda-benda pakai dan karya seni, berbentuk nyata sebagai obyek riil, seperti bangunan rumah, lukisan, patung, kerajinan, dan lain-lain (Koentjaraningrat, 1974: 200-201).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kroeber dan Kluckholn, kebudayaan terdiri dari pola-pola yang nyata maupun tersembunyi, mengarahkan perilaku yang dirumuskan dan dicatat oleh manusia melalui simbol-simbol yang menjadi pengarah yang tegas bagi kelompok-kelompok manusia; termasuk perwujudannya dalam barang-barang buatan manusia. Di satu pihak sistem-sistem kebudayaan dapat dianggap sebagai hasil tindakan, di pihak lainnya sebagai landasan (unsur-unsur) yang mempengaruhi tindakan selanjutnya (Said, 2004: 2).&lt;br /&gt;Setiap karya dari manusia dilaksanakan dengan suatu tujuan, yaitu bahwa setiap benda dari alam di sekitarnya yang diolah dan dikerjakan manusia mengandung dalam dirinya suatu nilai tertentu. Setiap benda budaya paling sedikit menandakan suatu nilai tertentu, dalam upaya mencapai hasil yang optimal, untuk menunjukkan maksud dan gagasan-gagasan penciptanya           (Said, 2004: 2)..&lt;br /&gt;Karya budaya manusia penuh dengan simbolisme, sesuai dengan tata pemikiran atau paham yang mengarahkan pola-pola kehidupan sosialnya. Kebudayaan itu sendiri adalah kesatuan dari gagasan-gagasan, simbol-simbol, dan nilai-nilai yang mendasari hasil karya dan perilaku manusia, sehingga tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa begitu eratnya kebudayaan dengan simbol-simbol yang diciptakan manusia sehingga manusia dapat disebut sebagai homo symbolicum (Said, 2004: 3).&lt;br /&gt; Kata simbol berasal dari kata Yunani, yaitu symbolos yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang. Tanda dipergunakan untuk menjalin hubungan antara pengirim pesan dan penerima pesan. Terdapat sejumlah jenis tanda yang dimanfaatkan dalam suatu sistem tanda, dimana tanda dan sistem tanda tidak terpisahkan. Salah satu dari jenis tanda tersebut  adalah simbol.&lt;br /&gt; Pengertian simbol yang lebih spesifik adalah tanda yang diwujudkan sebagai bentuk visual bagi sesuatu makna tertentu, yang abstrak, yang bersifat komunikatif bagi masyarakat tertentu, namun tidak bagi masyarakat lainnya. Untuk mengetahui simbol-simbol yang terdapat dalam masyarakat dibutuhkan pengetahan mengenai sistem budaya yang berlaku dalam masyarakat itu, termasuk pandangan hidupnya (Said, 2004: 6). Sedangkan menurut Spradley (1997), simbol adalah objek atau peristiwa apapun yang menunjukkan pada sesuatu (1997: 121). Simbol bukan lagi sesuatu yang asing, yang tidak terjangkau, tetapi telah menjadi bagian yang sangat dikenal oleh anggota masyarakat itu sendiri (Praptantya, 2002: 21).&lt;br /&gt; Salah satu karya budaya manusia yang penuh dengan simbol adalah komik yang telah muncul ratusan tahun yang lalu. Komik adalah gambar-gambar atau lambang-lambang lain yang terjukstaposisi dalam turutuan tertentu, untuk menyampaikan pesan atau informasi dan mencapai tanggapan estetis dari pembacanya (McCloud, 2001: 9). Komikus memiliki alam semesta  penuh simbol yang dapat digunakan sebagai pesan kepada penerima pesan. Masyarakat terus-menerus menciptakan simbol baru, seperti yang dilakukan oleh komikus (McCloud, 2001: 58). &lt;br /&gt;Komik menggambarkan banyak hal tentang apa yang terjadi di dalam masyarakat selama periode tertentu (Inasari, 2002: 83). Komik benar-benar sebagai bagian dari pendidikan dan sebagai alat yang berharga untuk menyebarkan informasi termasuk ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Pengetahuan dapat dikirim secara cepat dan lebih efektif melalui komik sebagai media komunikasi (Masdiono, 1998: 8).&lt;br /&gt; Komik yang sangat menarik untuk dikaji dalam kajian simbol adalah komik Doraemon karya kelompok Fujio F Fujiko pada tahun 1970. Komik tersebut diciptakan ketika Jepang sedang gencar-gencarnya mengusahakan perbaikan ekonomi antara lain dengan usahanya di bidang industri dan teknologi. &lt;br /&gt;Doraemon adalah cerita tentang seekor robot kucing yang diciptakan Hiroshi Fujimoto dan Motoo Abiko. Sejak tahun 1967 keduanya aktif menghasilkan karya-karya komik popular dengan nama kelompok Fujio F Fujiko. Fokus cerita komik ini adalah tentang robot kucing tanpa telinga menggunakan energi atom. Robot tersebut akan berhenti bekerja bila ditarik ekornya. Diceritakan Doraemon dilahirkan pada tanggal 3 September 2112 di sebuah pabrik robot dengan tinggi 129,3 cm dan berat 129,3 kg. Objek utama dalam Doraemon adalah kemampuannya menyediakan alat-alat yang serba canggih yang dapat mengatasi segala macam masalah, misalnya adalah mesin waktu, pintu ke mana saja, baling-baling bambu, dan alat-alat canggih lainnya.&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana sih hubungannya antara komik doraemon dengan masyarakat Jepang ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran Umum Kondisi Masyarakat Jepang&lt;br /&gt;Tujuh tahun setelah berakhirnya perang dunia II, dalam bulan September 1951 jepang menandatangani perjanjian perdamaian di San Fransisco dengan 48 bangsa lain. Jepang memperoleh kembali kemerdekaan dan kedaulatannya dalam bulan April 1952, pada saat perjanjian perdamaian mulai berlaku. Jepang diberi hak kembali sebagai anggota masyarakat dunia, mengakhiri periode peralihan yang pahit (Mangandaralam,1995: 23).&lt;br /&gt; Diterimanya kembali Jepang dalam masyarakat dunia merupakan titik awal kebangkitan sebuah Jepang baru. Dalam waktu yang relatif singkat, pada awal dasawarsa tujuhpuluhan, Jepang kembali diakui sebagai salah satu kekuatan ekonomi terkemuka di dunia. Rahasia keberhasilan Jepang dalam mencapai tingkat perkembangan ekonomi yang demikian maju adalah kerja keras dalam membangun kembali Jepang yang porak poranda, sebagai salah satu bentuk patriotisme dan semangat “bushido” dalam era baru (Mangandaralam,1995: 23).&lt;br /&gt;Jepang mulai bangkit dari kehancurannya sejak tahun 1955 yang ditandai dengan munculnya inovasi teknologi dan pertumbuhan perekonomian yang pesat. Bahkan sejak tahun 1960-an perubahan berar itu ditandai pula dengan beralihnya sikap sosial masyarakat Jepang terhadap keterbukaan dunia barat yang ditandai dengan munculnya produk-produk yang berbau Amerika di berbagai pusat perbelanjaan (Tsurumi, 1987: 28).&lt;br /&gt; Selama tahun 1960-an, kemajuan besar tercatat dalam pemerataan standar hidup di seluruh negeri dan dikembangkan lebih banyak kemungkinan pilihan untuk mengisi waktu-waktu senggang. Pengaruh penemuan dan penggunaan luas alat-alat listrik modern meningkatkan taraf penghidupan rumah tangga penduduk Jepang (Mangandaralam,1995: 61).&lt;br /&gt; Kemajuan Jepang, terutama sektor industrinya, pada hakikatnya didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sektor pendidikan menjadi salah satu sarana penting dalam kegiatan dan kehidupan nasional bangsa Jepang. Peranan pokok riset ilmiah di Jepang dimainkan oleh universitas dan lembaga risetnya. Manajemen administratif riset pada bidang ilmu pengetahuan terapan dan teknologi berada di bawah naungan Badan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kantor Perdana Menteri. Badan ini dibentuk tahun 1959. Kegiatan penelitian ilmiah di jepang meliputi berbagai bidang ilmu dan teknologi, antara lain riset energi nukir, riset ruang angkasa, riset dan observasi Antartika di Kutub Selatan, serta riset-riset bagi kemajuan sector industri, di samping riset oseanologi dan sumber daya alam. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di Jepang dapat dinilai dari munculnya tiga orang tokoh terkemuka Jepang yang telah mendapat hadiah Nobel, yaitu Dr. Hideki Yukawa, Dr. Shinichro Tomonaga, dan Dr. Leona Esaki, semuanya dalam bidang Fisika, masing-masing pada tahun 1949, 1965, dan 1973 (Mangandaralam,1995: 77). &lt;br /&gt; Pemuda-pemuda Jepang dikirm ke Eropa Barat dan AS untuk mempelajar keadaan di sana dan mengeduk ilmu. Rasa cinta mereka kepada tanah airnya sebagai samurai begitu besar, kini menunjukkan patriotismenya dalam hal belajar sebanyak mungkin. Sekembalinya di Jepang, mereka menterjemahkan buku-buku ilmu pengetahuanya yang berbahasa Inggris, Perancis, Jerman, dan lain-lain ke dalam bahasa Jepang. Ini merupakan jalan terpenting untuk memasukkan ilmu pengetahuan modern (yang bersumber dari Barat) ke dalam kebudayaan Jepang. Sebab dengan diterjemahkannya buku-buku ke dalam bahasa Jepang, ilmu pengetahuan dapat diraih oleh rakyat pada umumnya yang belajar di sekolah-sekolah (Suryohadiprodjo, 1987: 202-203).&lt;br /&gt; Untuk memperoleh teknologi modern, Jepang harus berjuang yang tidak ringan, sebab dunia Barat tidak mau memeberikan kemampuannya begitu saja secara Cuma-Cuma. Jepang harus membelinya dengan mahal, atau harus mengeluarkan tenaga pikiran dan waktu yang tidak sedikit untuk memperoleh kemampuan tersebut. Tetapi karena bertekad untuk menyamai Barat, maka Jepang bersedia melakukan segala sesuatu untuk itu, termasuk mempelajari gerak-gerik orang-orang Barat yang menjalankan mesin atau pabrik, bahkan mencuri rahasia-rahasia Barat dalam industri dan teknologi.Jepang membeli alat-alat seperti lokomotif dan pabrik-pabrik, yang satu langsung dipakai, tetapi yang lain dibongkar untuk dipelajari dan diusahakan untuk dibuat sendiri. Maka lambat laun teknologi pun menjadi bagian budaya Jepang (Suryohadiprodjo, 1987: 203).&lt;br /&gt; Sejak Restorasi Meiji ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian penting dalam kebudayaan Jepang, tidak kalah pentingnya dari perkelahian Sumo atau merangkai bunga Ikebana. Terutama setelah Perang Dunia II, Jepang makin merasakan perlunya peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab dalam perang itu, untuk pertama kali dalam sejarahnya bangsa Jepang dikalahkan. Tetapi ia menyadari bahwa kekalahan tersebut disebabkan oleh ketinggalannya dalam industri dan teknologinya dari AS. Oleh karena itu pemusatan perhatian kepada peningkatan ilmu pegetahuan dan teknologi bukan main besarnya (Suryohadiprodjo, 1987: 203).&lt;br /&gt;Faktor pendidikan berpengaruh besar sekali kepada pertumbuhan Jepang menjadi negara yang modern dan kuat dalam bidang ekonomi, karena pendidikan yang meluas itu menciptakan tenaga manusia yang cakap dalam proses produksi dalam jumlah besar. Pada mulanya pendidikan wajib di Jepang hanya berlangsung selama 4 tahun, namun kemudian dapat diperpanjang menjadi 6 tahun, kemudian setelah Perang Dunia II menjadi 9 tahun.&lt;br /&gt;Masyarakat Jepang selalu berpikir bagaimana membuat perubahan terhadap kondisi kehidupannya. Sikap dan pemikiran demikian merupakan motivasi dalam diri pribadi kebanyakan orang Jepang pada umumnya. Hal tersebut dapat dijumpai pada setiap diri pribadi, keluarga maupun sekelompok orang di negara Jepang yang memiliki pandangan-pandangan atau paradigma yang berorientasi ke depan untuk kemajuan dalam setiap aspek kehidupannya (Michiko, 2002:1).&lt;br /&gt;Perubahan adalah tuntutan mutlak bagi kehidupan masyarakat Jepang dan perubahan ke arah kemajuan tersebut merupakan suatu kekuatan untuk berhadapan dengan dunia luar. Perubahan yang sangat pesat terjadi pada pertengahan abad XX, yang mempengaruhi perekonomian dunia secara keseluruhan. Samuel P Huntington mengatakan bahwa pengaruh kemajuan masyarakat Jepang dimulai pada tahun 1980-an. Pada saat itu Jepang menjadi negara paling kuat di dunia. Perubahan kemajuan masyarakat Jepang tidak mampu diimbangi oleh negara-negara barat manapun, khususnya dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat. Orang Jepang membuat perubahan untuk kemajuan hanya dalam waktu 33 tahun. Kemajuan yang dicapai masyarakat Jepang telah berpengaruh sangat penting terhadap kemajuan masyarakat asia pada umumnya (Huntington,2000:177-183).&lt;br /&gt;Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Jepang dilandasi oleh pandangan dan sikap masyarakat Jepang terhadap keseluruhan moral dan budaya yang mengandung nilai-nilai untuk dijadikan pandangan hidup. Keberadaan budaya Jepang disebabkan oleh sikap masyarakat Jepang yang mengutamakan kebudayaan sebagai suatu yang esensial dan tetap dipertahankan (Michiko, 2002:2).&lt;br /&gt;Kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Jepang dalam mengadakan perubahan selalu berlandaskan nilai luhur yang diangkat dari budaya tradisional mereka. Hal itu begitu kuat dan mendasar sekali dalam memotivasi masyarakat Jepang yang selalu menjunjung nilai luhur budaya tradisional yang dijadikan identitas dan jati diri mereka (Okada, 2002: 17).&lt;br /&gt;Komik (Manga)&lt;br /&gt;       Industri manga&lt;br /&gt;  Amerika tercatat sebagai negara pertama yang melahirkan jenis hiburan populer yang disebut komik ini. Setelah kelahirannya, komik berkembang pesat dan sempat mengalami masa keemasannya diantara tahun 1938 dan 1945 ketika komik-komik Amerika melahirkan tokoh-tokoh super heronya seperti Superman. Kemudian komik menyebar sebagai komoditas bacaan popular ke berbagai penjuru dunia termasuk Jepang tidak luput mendapat pengaruhnya (Les Daniel, 1971: x).  &lt;br /&gt;  Sejak awal 1955 tercatat sebagai awal mula industri komik di Jepang. Hal itu diawali oleh para pembuat gambar pertunjukan keliling yang mulai kehilangan penonton karena mulai adanya industri film dan televisi. Para pembuat gambar tersebut selanjutnya berkonsentrasi menekuni pembuatan komik-komik yang kemudian menjadi koleksi perpustakaan yang dapat dipinjamkan. Mulai saat itu tradisi membaca komik menjadi bagian dari budaya Jepang sampai saat ini, dan fenomena tersebut sempat menimbulkan semacam anekdot yang menyatakan bahwa kebutuhan kertas di Jepang untuk pembuatan komik jauh melampaui penggunaan kertas toilet (Schodt, 1983: 12).&lt;br /&gt;Komik dalam bahasa Jepang disebut manga yang berarti kartun, karikartur, komik strip, buku komik, dan animasi. Istilah ini kemudian menyempit dan dikhususkan hanya untuk komik Jepang bahkan menjadi salah satu jenis komik yang diakui dunia. Manga menjadi bacaan paling akrab bagi masyarakat Jepang. Industri manga di Jepang berkembang menjadi pesatnya jauh melampaui Amerika. Manga bagi orang Jepang bukan hanya sekedar bacaan hiburan semata akan tetapi telah berubah menjadi kultus, khususnya bagi remaja (Schodt, 1983: 18).&lt;br /&gt; Kendati manga telah dikenal pada akhir abad ke-18, industri manga mulai berkembang pesat sejak 1963. Ketika itu masyarakat Jepang telah mampu berbelanja hiburan, termasuk membeli pesawat televisi. Jumlah televisi di Jepang pada tahun 1963 mencapai 15 juta unit, bertambah lima juta dari tahun sebelumnya. Kedatangan abad televisi mendorong para penerbit dan produser film merestrukturisasi industri manga. Setelah program televisi mingguan menayangkan televisi kejadian sehari-hari, majalah manga mingguan menggeser majalah manga bulanan. Majalah dicetak massal dan dijual di berbagai tempat dengan harga murah. Setiap edisi memuat sekitar 12 atau lebih seri komik (Shiraishi, 2000).&lt;br /&gt; Jepang telah menjadi negara industri besar dunia yang mampu bersaing dengan Amerika, setelah berhasil bangkit dari keruntuhan di masa Perang Dunia II puluhan tahun silam. Berbagai macam produknya mengalir ke berbagai belahan dunia tidak terkecuali Amerika. Jepang pun tampaknya seolah ingin balas dendam atas kekalahannya pada Perang Dunia II dengan membombardir segala produk eksportnya termasuk komik di dalamnya.&lt;br /&gt;Pada awalnya komik Jepang sempat mengalami perlakuan diskriminatif dan berkali-kali dilarang masuk pasaran Amerika dengan alasan sebagai sebuah ancaman. Setelah komik Jepang ini benar-benar diterima oleh publik berbagai negara termasuk Amerika, kemudian muncul lagi tanggapan bernada curiga, di antaranya yang dikatakan oleh Joseph Nye bahwa Jepang sebagai penguasa ekonomi, tampaknya tengah menyusun kekuasaan yang ‘kooptatif’, yaitu menjadikan orang lain menghendaki apa yang dikehendaki Jepang (Shiraishi, 2000).&lt;br /&gt;Amerika selalu berusaha menjadi trendsetter budaya popular dunia, maka Jepang pun pada gilirannya sudah menunjukkan persaingan untuk meruntuhkannya dan menjadi trendsetter baru dalam dunia komik dunia. Persaingan untuk menjadi trendsetter dunia itu dibuktikan Jepang melalui penyebaran judul-judul khas komik Jepang di Amerika. Hingga akhirnya Amerika yang pernah menganggap rendah komik Jepang akhirnya mengakui kelebihan-kelebihan manga. God of Manga Osamu Tezuka merupakan seniman manga pertama yang go internasional dari Jepang, dan setelah itu disusul oleh judul lain yang beredar hingga ke Perancis (Basuki, 2000). Pada 1963, Tezuka membuat animasi televisi untuk pertama kali, dan menjual karakter animasi tersebut (merchandising) untuk menutup biaya produksi. Dua karyanya, Mighty Atom (Astro Boy) dan Jungle Emperor sukses besar di luar negeri (Shiraishi, 2000).&lt;br /&gt;             Komik Doraemon&lt;br /&gt; Fujio F Fujiko adalah sebuah nama kelompok yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan komik di Jepang. Lewat tangan-tangan kreatif kelompok ini lahir komik-komik papan atas salah satunya adalah Doraemon yang lahir pada tahun 1970. Sejak kelahirannya Doraemon telah menjadi komik kegemaran anak-anak Jepang (Shiraishi, 2000)..&lt;br /&gt; Komik Doraemon tergolong komik humor dan termasuk jenis robot. Kemunculan komik ini menyusul robot atom The Mighty Atom (Astro Boy) karya Tezuka yang dibuat sekitar tahun 1968. Kedua kisah komik di atas memang sama-sama berkisah tentang robot jenius namun keduanya mempunyai karakter dan fungsi yang berbeda. Astro Boy diciptakan untuk membangun Jepang pasca perang yang telah luluh lantah diakibatkan bom atom Hiroshima-Nagasaki. Doraemon dibuat untuk melindungi Nobita yang sengaja dikirim dari abad ke-22 oleh cicitnya Nobita bernama Sewashi (Shiraishi, 2000)..&lt;br /&gt; Pada tahun 1974 Doraemon diterbitkan dalam bentuk serial komik oleh Shougakukan. Tahun 1979 muncul Doraemon dalam bentuk kartun disepuluh saluran televisi. Setelah dua tahun disiarkan di televisi Jepang, Doraemon kemudian disiarkan di negara-negara lain seperti Hongkong (1981), Indonesia (1989), Cina (1991), Malaysia, Brazil, dan Singapura (1982), dan menyusul beberapa negara lainnya (Lam, 1997: 10). &lt;br /&gt; Serial Doraemon memiliki karakter yang berbeda dengan karya-karya Walt Disney dan Waner Bros. Cerita yang disuguhkan Doraemon dapat membekas pada benak anak-anak dan memuaskan imajinasi mereka tentang benda-benda yang dikeluarkan dari kantong ajaib Doraemon yang dapat mengatasi semua masalah (CP, 2000).&lt;br /&gt; Robot ini sengaja dikirim oleh cicit dari cicitnya Nobita bernama Sewashi dengan misi untuk membantu Nobita agar dapat terhindarkan dari segala kesulitan dan dapat terhindar dari perkawinan dengan Jaiko adiknya Giant. Doraemon memiliki saudara perempuan bernama Dorami yang bertugas akan menggantikannya ketika Doraemon harus masuk bengkel untuk pemeriksaan mesinnya yang dilakukan secara rutin ((Shiraishi, 2000).&lt;br /&gt; Kehadiran Doraemon pertama kali ketika dikirimkan kurang sempurna ketika itu mendarat dari dalam laci meja belajar Nobita. Padahal di dalam laci meja belajar Nobita tersebut ada seekor tikus dan memakan daun telinga Doraemon. Akibat kejadian itu kemudian menjadikan Doraemon phobia terhadap tikus. Doraemon merupakan robot yang memiliki perasaan dan selera makan seperti manusia dengan makanan kesukaannya yaitu dorayaki. Sesuatu yang diandalkannya adalah kantong empat dimensi yang berisi alat-alat serba canggih. Salah satu alat yang diandalkan untuk masuk ke dunia lain bernama bocodemo atau pintu. Ciri-ciri alat yang dikeluarkan oleh Doraemon adalah berteknologi tinggi tetapi mudah dioperasikan. (Shiraisi, 2000).&lt;br /&gt; Cerita serial Doraemon, sebenarnya sarat dengan pesan moral dan nilai-nilai pelajaran di dalamnya. Dalam sebuah buku komik Doraemon rata-rata berisi 15 judul dan biasanya hanya 3-4 judul saja yang bertema humor semata. Tema-tema yang sering muncul kebanyakan berkisar pada masalah pentingnya belajar, budi pekerti, bekerja keras, pengetahuan teknologi, pengetahuan alam, sampai dengan pengetahuan sejarah.&lt;br /&gt; Komik ini mempunyai dua tokoh sentral yaitu Doraemon dan Nobi Nobita, seorang pelajar kelas 4 SD. Doraemon diciptakan khusus untuk mendampingi Nobita. Selain kedua tokoh tersebut, Nobita mempunyai teman bermain yang terdiri dari Shizuka, Goda Takeshi ‘Giant’, Suneo Hasegawa, dan Dekisugi. Setting peristiwa mengambil situasi kehidupan perkotaan Jepang di tahun 1970-an. Dalam kehidupan sehari-hari mereka mempunyai tempat bermain di lapangan kecil sebuah arel kosong.&lt;br /&gt; Masing-masing tokoh dalam komik ini memiliki ciri ekspresif atau karakter yang berbeda-beda. Pertama, Doraemon digambarkan sabar dan salalu mengalah untuk Nobita. Nobita sering digambarkan sebagai anak yang lemah, malas belajar, tidak suka olah raga, hobinya bermain tali dan lompat tali dengan anak perempuan. Teman-teman Nobita yang dekat adalah Shizuka, seorang anak perempuan yang pintar berasal dari keluarga berada yang mempunyai kegemaran mandi berendam. Teman Nobita yang lain adalah Goda Takeshi atau akrab dipanggil Giant merupakan anak yang bertubuh paling besar. Ia merasa paling berkuasa di antara teman lainnya tetapi sangat takut kepada ibunya. Tokoh lain yang kerap muncul adalah Suneo Hasegawa, seorang anak laki-laki yang paling kaya di antara teman Nobita. Suneo paling suka memamerkan mainan-mainan mahal yang baru dibeli oleh ayahnya dari luar negeri.&lt;br /&gt;      Makna Komik Doraemon &lt;br /&gt; Seperti yang telah diuraikan di depan bahwa karya budaya manusia penuh dengan simbolisme, sesuai dengan tata pemikiran atau paham yang mengarahkan pola-pola kehidupan sosialnya. Kebudayaan itu sendiri adalah kesatuan dari gagasan-gagasan, simbol-simbol, dan nilai-nilai yang mendasari hasil karya dan perilaku manusia. Begitu pula dengan keberadaan komik Doraemon yang hadir di tahun 1970-an di dalamnya sarat dengan pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada penerima pesan atau pembaca. Pesan tersebut diungkapkan secara simbolik melalui sebuah komik yang diberi nama Doraemon.&lt;br /&gt; Objek utama dalam serial komik Doraemon adalah alat-alat canggih berteknologi tinggi  yang digunakan untuk mengatasi berbagai masalah. Alat-alat tersebut dikeluarkan dari dalam kantong empat dimensi milik Doraemon yang dapat dikeluarkan kapan saja dan di mana saja. Walaupun alat-alat Doraemon berteknologi tinggi akan tetapi alat-alat tersebut mudah dioperasikan.&lt;br /&gt; Berdasarkan uraian di atas tampak adanya relasi antara komik Doraemon dengan masyarakat Jepang di era kemunculan pertama kali komik Doraemon terutama berkaitan dengan aspek teknologi dan industri.  Komik Doraemon diciptakan dalam situasi perindustrian yang sedang menggalakkan komputerisasi dalam proses produksi. Sistem mekanisasi dan elektronika (mekatronika) yang berbentuk robot-robot mulai berperan dalam industri otomotif Jepang saat itu (Ishinomori, 1989: 9).&lt;br /&gt; Kemunculan inovasi teknologi dalam bidang industri tidak dapat dilepaskan dari peran masyarakat Jepang sendiri yang haus akan ilmu pengetahuan. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa pada era 1955-1970-an, peningkatan ilmu pengetahuan menjadi point yang pokok. Para Pemimpin Jepang berpendapat bahwa hanya melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dibangun industri dan ekonomi Jepang yang maju. Faktor pendidikan berpengaruh besar sekali kepada pertumbuhan Jepang menjadi negara yang modern dan kuat dalam bidang ekonomi , karena pendidikan yang meluas itu menciptakan tenaga manusia yang cakap dalam proses produksi dalam jumlah besar. &lt;br /&gt; Komik Doraemon sangat sesuai dengan semangat zaman ketika pertama kali komik itu dibuat yaitu kemajuan di bidang teknologi dan industri sebagai hasil dari masyarakat Jepang yang menjunjung tinggi dan haus akan ilmu pengetahuan. Sehingga komik Doraemon dapat dikatakan sebagai simbol masyarakat Jepang yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan berhasil bangkit dari kehancuran menjadi masyarakat yang maju.&lt;br /&gt; Selain itu Doraemon juga sebagai simbol produk-produk industri Jepang yang sangat mengutamakan kesempurnaan. Hal tersebut dapat dilihat dari semua alat-alat Doraemon yang dapat mengatasi semua permasalahan. Dapat dikatakan bahwa produk-produk Jepang adalah produk yang sedikit sekali terdapat cacat dan kerusakan. Hal tersebut karena perusahaan Jepang menganggap masalah itu sebagai sesuatu yang memalukan, yang menyangkut kehormatan perusahaan. Jika barang dagangan yang cacat diketemukan dan ditulis dengan huruf besar di surat kabar, kepala bagian yang bertanggung jawab atas hal itu merasa lebih baik mati. Bukan hanya manajemen tertinggi, akan tetapi juga kepala bagian dan kepala seksi merasa sangat bertanggung jawab atas kualitas produk yang mereka hasilkan. Mandor dan pekerja juga mempunyai rasa tanggung jawab. Ini bersumber dari kenyataan bahwa Jepang mempunyai ‘kebudayaan yang didasarkan pada rasa malu (culture of shame) dalam masyarakat Jepang yang sangat erat terjalin, setiap orang merupakan bagian dari suatu kelompok (Moritani, 1986: 49-50).&lt;br /&gt; Bahwasanya orang Jepang sangat tidak menyukai barang cacat juga berasal dari sifat tidak mudah puas yang merupakan sebagian wataknya. Cacat kecil saja sudah menimbulkan rasa tidak enak, sehingga mereka menghendaki kesempurnaan. Dan ini tidak hanya pada pabrikan saja. Watak nasional yang demikian inilah yang mendukung terciptanya kualitas tinggi barang-barang Jepang. Namun demikian, salah satu faktor terpenting dan konkrit yang menyebabkan kualitas tinggi adalah penyebaran teknik pengawasan mutu atau kualitas. Pengawasan mutu atau Quality Control (QC), tersebar di seluruh industri manufaktur sejak sekitar tahun 1950. ‘Lingkaran QC’ Jepang yang terdiri atas pekerja yang terlibat dalam produksi, merupakan unsure utama penyebaran teknik QC dan telah menarik banyak perhatian dunia (Moritani, 1986: 50-51).&lt;br /&gt;  Kesimpulan&lt;br /&gt;Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa komik Doraemon ternyata tidak hanya berfungsi sebagai bacaan hiburan semata. Akan tetapi, dibalik keberadaannya ternyata terdapat makna yang tersembunyi. Bagi orang Jepang, komik Doraemon adalah sebagai simbol dari masyarakat Jepang yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan berhasil bangkit dari kehancuran menjadi masyarakat yang maju. Selain itu komik tersebut juga sebagai simbol produk-produk industri Jepang yang sangat mengutamakan kesempurnaan. Jadi, diciptakannya simbol dalam bentuk komik Doraemon tersebut adalah dengan tujuan pencapaian tujuan sosial tertentu. Masyarakat Jepang menginginkan agar mereka (orang Jepang) tidak lagi dianggap sebagai warga Jepang yang terpuruk akibat kekalahan dalam Perang Dunia II. Masyarakat Jepang ingin mengatakan bahwa negara dan masyarakatnya sudah menjadi bangsa yang maju yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-4300774590752700088?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/4300774590752700088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/09/ada-apa-sih-di-balik-komik-doraemon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/4300774590752700088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/4300774590752700088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/09/ada-apa-sih-di-balik-komik-doraemon.html' title='Ada Apa sih di Balik Komik Doraemon ??'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SsAvaslL_iI/AAAAAAAAAAw/x2a330n6GiU/s72-c/ab-doraemon2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-6194634256300724615</id><published>2009-09-16T10:51:00.000+07:00</published><updated>2009-09-16T10:58:07.583+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kota'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pariwisata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Menengok Sisi Lain Wajah Pariwisata Kotagede</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SrBiEBKx27I/AAAAAAAAAAk/EtJpgBw4WGs/s1600-h/kotagede10.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SrBiEBKx27I/AAAAAAAAAAk/EtJpgBw4WGs/s320/kotagede10.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381909375880387506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SrBiD1pALhI/AAAAAAAAAAc/vd3iYdFYJfY/s1600-h/Kotagede.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SrBiD1pALhI/AAAAAAAAAAc/vd3iYdFYJfY/s320/Kotagede.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381909372785929746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dibantah lagi bahwa salah satu ikon pariwisata di Indonesia yang cukup menonjol ialah Kota Yogyakarta. Bukan hanya sebagai kota pariwisata, Yogyakarta juga berhasil menyabet predikat sebagai kota budaya, pendidikan, sepeda, dan masih banyak lagi. Gelar kota pariwisata dapat diraih karena memang kota ini mampu menyuguhkan kepada wisatawan beraneka macam Objek dan Daya Tarik Wisata. Mulai dari wisata panorama alam, pendidikan, seni dan budaya, spiritual, sampai wisata kuliner. Semuanya itu dipersembahkan dengan kemasan yang sangat apik dan atraktif. Tidaklah mengherankan kalau Yogyakarta dipilih sebagai kota tujuan wisata setelah Pulau Bali.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kota di Yogyakarta yang menjadi Objek dan Daya Tarik Wisata yang cukup populer ialah Kotagede. Kota ini berjarak sekitar 15 km dari pusat Kota Yogyakarta dan dapat ditempuh menggunakan angkutan umum seperti bus Trans Jogja ataupun kendaraan pribadi. Ketika mendengar nama Kotagede, maka yang akan muncul dalam benak kita semua ialah kerajinan perak. Tepat sekali! Perak memang sangat identik dengan Kotagede. Ada pepatah mengatakan jika berwisata ke Kotagede belum membeli souvenir perak, maka jangan pernah engkau mengatakan pernah ke Kotagede. Cukup menantang memang ! Tapi inilah kenyataan bahwa Kotagede tidak dapat dipisahkan dari perak. Industri perak berkembang pesat di Kotagede sejak tahun 1930-an. Industri kerajinan perak ini kemudian menyebar ke berbagai kampung lainnya, bahkan kampung yang dulu merupakan kampung buruh sekarang sudah tumbuh menjadi kampung kerajinan. &lt;br /&gt; Ketika anda masuk objek wisata Kawasan Cagar Budaya Kotagede, anda jangan menaruh curiga hanya akan menemui industri perak saja, tetapi semua hal akan anda temui di kota ini jika anda mau meluangkan waktu anda untuk ‘blusukan’ ke permukiman penduduk. Anda tidak perlu takut akan dimarahi warga karena mondar-mandir di halaman rumah mereka. Warga setempat akan dengan senang hati memberikan senyuman manisnya kepada anda. Jika anda mau menyusuri jalan-jalan kampung di Kotagede maka anda akan menemui banyak sekali pengrajin baik perak, emas, tembaga, kulit, dan lainnya. Selain itu anda juga akan menemui beberapa peninggalan arkeologi yang terdapat di Kotagede diantaranya masjid besar Mataram, sendang seliran, makam raja-raja, pasar, dan lainnya. Yang tidak kalah seru adalah adanya beberapa kelompok yang berusaha menjaga kelestarian seni tradisional Kotagede. &lt;br /&gt; Salah satu daya tarik wisata Kotagede yang kurang dikenal masyarakat luas ialah seni pertunjukan tradisional. Sejak dulu Kotagede merupakan salah satu pusat kebudayaan Jawa. Kesenian sebagai salah satu dari budaya masyarakat tumbuh dengan baik di kota ini. Di Kota ini anda dapat menyaksikan beberapa kesenian tradisional asli dari Kotagede diantaranya adalah karawitan. Atraksi kesenian ini dapat dijumpai di beberapa tempat di Kotagede dan para pelakunya biasanya tergabung dalam paguyuban kesenian. Keberadaan kelompok kesenian karawitan merupakan hasil inisiatif dari masyarakat sendiri sebagai aktivitas pengisi waktu dan bersifat musiman. Dalam kegiatan karawitan, kadang-kadang juga dimainkan beberapa kesenian yang lain diantaranya tari tradisional, macapatan, dan srandul. Untuk anda yang ingin menyaksikan seni karawitan, anda dapat datang ke Gedung Kesenian Kotagede setiap hari Selasa dan Jumat malam atau datang ke kampung Bumen, Kelurahan Purbayan yang memiliki banyak potensi seni tradisional. Gedung Kesenian terletak di Jalan Mondorakan tepatnya sebelah barat Pasar Kotagede. &lt;br /&gt; Kesenian tradisional Kotagede yang tidak kalah menarik ialah Wayang Tingklung. Wayang tingklung merupakan sejenis kesenian wayang yang sangat unik karena berbeda dengan pertunjukan wayang pada umumnya. Dalam pertunjukan ini peran dalang tidak hanya diposisikan sebagai orang yang memainkan wayang dan penguasa jalan cerita, akan tetapi dalang juga melantunkan sendiri instrumen pengiring dengan suaranya. Dengan kata lain tidak ada alat musik gamelan, cukup bibir yang menirukan suara gamelan. Menarik kan? Pada mulanya bahan yang digunakan untuk membuat wayang berasal dari kertas karton namun kemudian diganti dengan bahan kulit. Tokoh-tokoh yang dimainkan menggunakan tokoh-tokoh pada wayang kulit purwa. Satu-satunya dalang wayang tingklung yang masih ada sampai saat ini ialah Ki Tjermo Soepardi Mudjihartono alias Mujiran dari dusun Citran. Lakon-lakon yang sering dimainkan adalah Babad Alas Martani dan Antasena Takon Bapa. &lt;br /&gt; Jika anda ingin menyaksikan puluhan orang yang sudah lanjut usia beratraksi memamerkan keahliannya, maka sempatkanlah untuk melihat Seni Gejog Lesung. Kesenian ini berada dalam sebuah paguyuban yang dinamakan Paguyuban Seni Gejog Lesung Ngudi Wikrama Kotagede. Gejog lesung adalah pertunjukan kesenian  yang menggunakan lesung (tempat menumbuk padi) sebagai alat musik. Anda akan melihat sekitar 20an orang berusia lanjut memainkan musik selama 15-20 menit. Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu dolanan yang dirangkai dengan sekar macapatan. Anda tertarik untuk menyaksikan? Jika anda tertarik, anda dapat menghubungi dahulu Bapak R. Kastoer di Jalan Ngeksigondo 24, Prenggan, Kotagede. &lt;br /&gt; Di Kotagede kesenian yang berkembang cenderung ke arah seni religius. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari latar belakang masyarakat Kotagede yang religius sehingga turut mempengaruhi corak kesenian yang dihasilkan. Salah satu contoh kesenian tersebut ialah shalawatan. Shalawatan merupakan kesenian yang sudah menjadi tradisi sejak Kerajaan Mataram Islam. Pada awalnya, kegiatan ini hanya diadakan pada upacara peringatan Mi’raj Nabi Muhammad SAW yaitu untuk memberikan penghormatan kepada Nabi Muhammad. Syair yang dibacakan berisi tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad sebagai suri teladan. Kegiatan ini dipimpin oleh seorang dalang yang memberi komando kepada sekitar 20 orang yang terbagi sesuai dengan jenis nada yang dikuasai, untuk melantunkan syair shalawat. Alat musik yang digunakan adalah gong, kempul, dan geblu. Ketika melakukan shalawatan, harus disediakan sesaji dan keharusan untuk memakai pakaian adat Jawa bagi dalang dan para pemain. Pembaca syair hanya diperbolehkan memakan kencur dan brambang selama berlangsungnya acara. Bagi anda yang tertarik dengan kesenian ini, silakan datang pada hari Kamis Minggu kedua, bertempat di Kompleks Masjid Besar Mataram Kotagede. Acara biasanya berlangsung dari pukul 20.00 sampai 03.00 dini hari. &lt;br /&gt; Kawasan Cagar Budaya Kotagede memang masih menyimpan banyak sekali potensi pariwisata yang layak untuk ditengok. Selama ini wisatawan hanya terfokus pada kerajinan perak ketika berkunjung ke Kotagede. Selain perak, wisatawan biasanya juga diarahkan untuk mengunjungi peninggalan-peninggalan sejarah seperti Masjid Besar Mataram. Jika mau menengok lebih dalam lagi, wisatawan bisa menikmati indahnya seni pertunjukan tradisional yang bukan tidak mungkin akan punah beberapa tahun lagi. Jadi masih ada kesempatan untuk berwisata ke Kotagede menikmati eksotisnya kesenian tradisional.&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-6194634256300724615?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/6194634256300724615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/09/menengok-sisi-lain-wajah-pariwisata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/6194634256300724615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/6194634256300724615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/09/menengok-sisi-lain-wajah-pariwisata.html' title='Menengok Sisi Lain Wajah Pariwisata Kotagede'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SrBiEBKx27I/AAAAAAAAAAk/EtJpgBw4WGs/s72-c/kotagede10.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4237403811545449871.post-8576607478353681783</id><published>2009-09-16T09:16:00.000+07:00</published><updated>2009-09-16T09:21:14.291+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Romantika Warisan Budaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SrBLhuCkKuI/AAAAAAAAAAM/xm0b50FelOI/s1600-h/keraton-kasepuhan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 232px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SrBLhuCkKuI/AAAAAAAAAAM/xm0b50FelOI/s320/keraton-kasepuhan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381884597374298850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Saya bangga jadi anak Indonesia karena banyak sejarah &lt;br /&gt;yang dapat diambil pelajaran”. (Intan, Pelajar SDN Kartika IV Kota Cirebon).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sedikit celotehan yang dituangkan oleh seorang pelajar SD di atas selembar kain kesan dan pesan ketika menyaksikan pameran purbakala yang diadakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang di Kota Cirebon beberapa waktu lalu. Sepintas, satu baris kalimat tersebut tampak sangat sederhana, namun di balik kesederhanaan tersebut terdapat makna yang luar biasa. Tentu kita harus menakarnya dari posisi berapa usia anak tersebut. Jika yang melontarkan kalimat tersebut adalah anak seusia SMA, sudah pasti itu ialah hal yang biasa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah sebuah negeri kepulauan yang seolah tidak pernah bosan merasakan manis pahit perkembangan peradaban. Dimulai dari peradaban yang paling primitif yaitu ketika manusia masih menggantungkan hidupnya pada batu-batuan, kemudian ketika masyarakat disuapi doktrin-doktrin agama Hindu dan Budha hingga tercipta megahnya Candi Borobudur. Perjalanan tidak berhenti sampai di situ saja. Pengaruh agama Islam pun seolah tidak mau ketinggalan untuk ambil bagian dalam percaturan kebudayaan di Indonesia. Adalah makam Fatimah Binti Maimun di Leran Gresik, yang sampai saat ini masih dipercaya sebagai bukti tertua masuknya masyarakat muslim di Pulau Jawa. Ketika penjajah Kolonial Belanda menapakkan kakinya di Indonesia, imbasnya terasa sangat luas. Semua lini kehidupan terpengaruh oleh budaya barat baik secara fisik maupun mental yang termanifestasikan dalam beragam bentuk.&lt;br /&gt;Pada era sekarang ini, masyarakat Indonesia diuji ketahanannya dari dahsyatnya serbuan budaya asing yang mendera setiap sektor kehidupan. Jika ditarik ke belakang ternyata hal tersebut pun telah terjadi pada masa lampau seperti yang telah diuraikan di atas. Ketika manusia prasejarah dihadapkan pada sebuah kebudayaan asing, yaitu India, mereka dengan sangat mudah dapat menerimanya. Dalam hal keyakinan, hampir terdapat persamaan pada kedua kepercayaan tersebut, yang paling utama adalah objek dari sesuatu yang mereka puja. Masyarakat prasejarah, sebelum mengenal agama Hindu, mendasarkan kepercayannya kepada hal-hal gaib dalam hal ini nenek moyang mereka. Mereka percaya akan adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati, terutama pengaruh kuat dari nenek moyang yang telah mati terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman, sehingga dalam setiap prosesi ritualnya selalu berkaitan dengan hal tersebut. &lt;br /&gt;Ajaran yang dibawa oleh orang-orang India ketika masuk di nusantara tidaklah jauh berbeda dari kepercayaan kaum prasejarah. Jika masyarakat prasejarah percaya kepada hal-hal gaib seperti roh nenek moyang yang kemudian direpresentasikan dalam bentuk arca, maka dalam agama Hindu pemujaan ditujukan kepada para dewa trimurti ,yaitu Siwa, Brahma, dan Wisnu yang diwujudkan dalam bentuk arca pula. Dari kemiripan ini, tidak mengherankan jika masyarakat prasejarah begitu mudah menerima sistem yang baru dalam kehidupan mereka. Namun, sangatlah gegabah kiranya jikalau kita terlalu cepat menarik kesimpulan betapa mudahnya orang-orang India menanamkan pahamnya kepada mereka. Tentu saja banyak sekali kesulitan yang dihadapi terutama sekali dalam hal bahasa penyampaian. &lt;br /&gt;Kreatifitas&lt;br /&gt;Sebagai sebuah bangsa yang kaya akan nilai-nilai tradisional, akan sangat ironis tatkala nilai-nilai tersebut hilang begitu saja diterkam budaya-budaya luar yang sangat bertolak belakang dengan kebudayaan bangsa Indonesia. Begitu banyaknya warisan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia, baik abstrak ataupun konkret, yang dapat membangkitkan semangat persatuan bangsa ditengah-tengah kemajemukan budaya bangsa. Sebuah pertunjukan spektakuler yang ditampilkan pada saat puncak peringatan 100 tahun Indonesia Bangkit, dapat dijadikan sebagai momentum yang tepat untuk menunjukkan bahwa Indonesia berbeda dengan negara-negara lain yaitu didukung oleh ribuan hasil budaya bangsa.&lt;br /&gt;Harus diakui bahwa masyarakat Indonesia pada masa lampau ialah orang-orang yang kreatif terutama dalam mengelola arus globalisasi masa lalu. Serangan budaya asing yang mendera mereka begitu kuat, sehingga diperlukan sebuah saringan yang mampu mengontrol kebudayaan baru itu. Saringan itu adalah kreatifitas. Dengan adanya kreatifitas, manusia dapat mempertahankan hidup contohnya dalam beradaptasi dengan lingkungan baik fisik maupun budaya. Bangsa Indonesia harus bangga memiliki nenek moyang yang kreatif yaitu kreatif dalam segala hal khususnya dalam memadukan dua atau lebih kebudayaan yang berbeda sehingga terciptalah sebuah bentuk budaya yang baru yang dapat diterima masyarakat luas. &lt;br /&gt;Salah satu contoh budaya materi hasil karya nenek moyang adalah bangunan punden berundak sebagai representasi upacara pemujaan kepada arwah nenek moyang. Bangunan ini banyak terdapat di beberapa daerah di Indonesia, contohnya adalah Lebak Sibedug yang ada di Kabupaten Lebak, Pugungraharjo Lampung, dan sebagainya. Para ahli menyepakati bahwa bangunan ini adalah sebagai cikal bakal dari bangunan candi, ambil saja contoh Candi Borobudur. Hal inilah yang memberikan nilai lebih kepada candi-candi yang ada di Indonesia karena ternyata sangat berbeda dengan pakem aslinya yang ada di India. Di Indonesia, candi yang memiliki arsitektur hampir sama dengan gaya di India hanya terdapat di kompleks percandian Dieng Wonosobo, sedangkan lainnya adalah hasil kreatifitas masyarakat Indonesia tanpa kehilangan filosofinya. &lt;br /&gt;Local wisdoms&lt;br /&gt;Sebaris kalimat pembuka di atas bagi penulis adalah hal yang patut ditanamkan pada benak anak-anak Indonesia yang notabene sebagai generasi penerus bangsa. Ketika nilai-nilai luhur budaya bangsa mulai terkikis dan bahkan suatu saat akan hilang, maka bangsa ini telah kehilangan identitas aslinya. Walaupun pada kenyataannya kita tidak boleh menafikan bahwa sebuah kebudayaan pasti akan mengalami perubahan seperti halnya yang terjadi pada masa lalu. Namun, yang paling penting adalah apa yang dapat kita ambil pelajaran dari masa lalu untuk menapak masa depan yang lebih baik. Satu hal yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia ialah bahwa nenek moyang telah mewariskan kepada kita ratusan bahkan ribuan kearifan lokal masyarakat masa lalu, baik dalam bidang hukum, budaya, sosial, ekonomi, religi, dan lainnya. &lt;br /&gt;Ketika beberapa waktu yang lalu bangsa Indonesia dihebohkan oleh pertikaian yang berbau SARA di beberapa daerah yang harus mengorbankan banyak nyawa, maka kita akan malu jika dipaksa untuk membuka kembali buku catatan masa kebudayaan Hindu-Budha-Islam di Jawa khususnya Jawa Timur. Pada masa itu, agama yang berkembang di masyarakat ialah Hindu dan Budha sebagai agama mayor dan Islam sebagai agama minor. Keberadaan masyarakat muslim sudah mulai tampak pada masa ini. Jika kita mengunjungi salah satu situs makam di Troloyo, Mojokerto, Jawa Timur, kita serasa menggunakan mesin waktu kembali ke abad XV, dimana kerajaan Majapahit berhasil menyatukan wilayah nusantara. Kita dapat membayangkan betapa indahnya hidup pada masa itu, hidup di dalam sebuah masyarakat yang menunjung tinggi toleransi beragama. &lt;br /&gt;Di area situs tersebut terdapat dua buah kompleks makam yang bernama Makam Syekh Jumadil Qubro dan Makam Tujuh. Makam yang pertama keadaannya sudah kacau balau karena pemanfaatan yang sangat bertentangan dengan pelestarian. Semuanya sudah berhiaskan keramik putih. Sedangkan makam yang kedua keadaanya masih asli karena belum terjamah orang yang tidak bertanggung jawab (mudah-mudahan jangan sampai). Hal yang menarik dari keberadaan Makam Tujuh ini adalah adanya inskripsi / tulisan pada kedua sisi nisan. Pada nisan sisi dalam, terdapat ukiran berbentuk logo kerajaan milik Hayam Wuruk yaitu Surya Majapahit. Di bawah logo tersebut dipahat angka tahun dalam aksara Jawa Kuna. Sedangkan di sisi luar, terdapat kaligrafi Islam yang berbunyi laailahaillah (kemungkinan yang  dimaksud adalah laailahaillallah) mukhammadarrasuulullah. &lt;br /&gt;Data di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa pada masa itu toleransi beragama memang dipegang sangat kuat. Agama Islam sebagai agama minor pada masa itu diberikan tempat tersendiri di dalam masyarakat sehingga mereka dapat hidup secara rukun. Contoh yang sampai saat ini masih berlangsung dapat kita jumpai di Pulau Sakenan, Bali, dimana komunitas masyarakatnya terdiri dari dua agama yakni Hindu dan Islam. Yang menarik adalah bahwa ketika salah satu kelompok agama tersebut mempunyai hajatan misalnya bersih pura, maka orang-orang yang beragama Islam akan dengan senang hati bergotong royong membantunya, begitu pula sebaliknya. &lt;br /&gt;Dari uraian tersebut di atas kita dapat memikirkan kembali kondisi bangsa Indonesia yang notabene kaya akan kemajemukan budaya namun pada sisi yang lain sangat rawan terhadap konflik. Jika kita baca lagi sebaris kalimat pembuka di atas, maka apa yang disampaikan oleh pelajar SD itu patut kita renungkan kembali. Pesan utama yang ingin disampaikan oleh anak tersebut ialah bahwa nenek moyang kita telah mewariskan betapa indahnya nilai-nilai local wisdoms masa lalu. Apa yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu bangsa beberapa abad silam sangatlah masih rasional untuk kita ambil pelajaran pada masa kini karena pada dasarnya peristiwa-peristiwa masa lalu pasti akan terjadi lagi pada masa kini, sehingga kita dapat mengambil pelajaran untuk menapak masa depan yang lebih baik.&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4237403811545449871-8576607478353681783?l=rahmadmarine.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/feeds/8576607478353681783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/09/romantika-warisan-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/8576607478353681783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4237403811545449871/posts/default/8576607478353681783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahmadmarine.blogspot.com/2009/09/romantika-warisan-budaya.html' title='Romantika Warisan Budaya'/><author><name>break your adventure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09998032542025567969</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AIYWPFIQ5IA/SrBLhuCkKuI/AAAAAAAAAAM/xm0b50FelOI/s72-c/keraton-kasepuhan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
